Tari Piring: Sejarah, Fungsi, Keunikan, Ragam Gerak, Busana dan Pertunjukan

Selain rumah gadang yang menjadi salah satu ciri khasnya, Provinsi Sumatera Barat juga memiliki banyak kuliner khas yang begitu menggugah selera. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat semua tersaji lengkap dan siap memanjakan lidah para wisatawan yang datang kesini.

Tak cukup disitu, para wisatawan pun bisa puas menikmati keindahan alam Sumatera Barat yang begitu menawan. Begitu banyak objek wisata menarik yang bisa Anda temui begitu berkunjung kesini.

Selain itu, kebudayaan di Sumatera Barat juga masih dan masih dijaga sampai saat ini. Salah satunya adalah Tari Piring. Tarian tradisional yang berasal dari Solok, Tanah Minangkabau ini merupakan salah satu pertunjukan yang masih cukup mudah Anda temui. Bukan hanya untuk hiburan masyarakat lokal, namun tarian tradisional ini juga banyak dipertunjukan bagi wisatawan mancanegara yang datang ke Sumatera Barat.

Keindahan gerakan tari yang unik dipadukan dengan alunan musik serentak serta pakaian yang menarik menjadikan pertunjukan tari tradisional ini jauh dari kata membosankan. Menariknya, Tari Piring pun sudah banyak dikenal hingga berbagai belahan dunia.

Sejarah Awal Tari Piring

Tarian tradisional ini berasal dari Minangkabau. Dimana dulunya masyarakat MInangkabau selalu melakukan berbagai ritual yang mana ritual-ritual tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat pada para dewa atas hasil panen yang begitu melimpah.

Ketika pelaksanaan ritual syukuran tersebut, setiap masyarakat Minangkabau akan membawa sesaji yang berupa makanan. Makanan-makanan sesaji tersebut dibawa menggunakan piring. Piring yang berisi makanan sesaji tersebut akan dibawa dengan melakukan gerakan tari yang beriringan dengan iringan musik nan syahdu.

Seiring berjalannya waktu, agama Islam mulai masuk tanah Minangkabau dan menjadikan Tari Piring ini tidak lagi digunakan sebagai bentuk ritual rasa syukur bagi para dewa. Akan tetapi tarian tradisional ini digunakan sebagai hiburan masyarakat Minangkabau. Hingga saat ini tarian ini pun masih sering dipentaskan pada acara-acara adat maupun acara besar lain.

Fungsi Tari Piring

Dari sejarahnya, sudah bisa diketahui jika awalnya tarian ini difungsikan untuk upacara atau ritual adat, akan tetapi seiring perkembangan zaman, tarian tradisional asal Minangkabau ini difungsikan sebagai sarana hiburan masyarakat.

Menariknya, Tari Piring bukan hanya kerap dipentaskan saat acara tertentu saja, namun juga sering digunakan pada acara upacara pernikahan. Tarian tradisional ini juga kerap digunakan pada acara hidangan dan juga pengangkatan dari seorang penghulu.

Pada kondisi tertentu dimana masyarakat mendapat hasil panen yang melimpah, tarian ini juga kerap dipentaskan sebagai bentuk perwujudan rasa syukur pada Tuhan. Berbeda dengan jaman dahulu, yang mana tarian ini hanya dipentaskan untuk orang-orang yang tergolong mampu/kaya saja.

Saat hari-hari besar seperti perayaan HUT RI, Tari Piring juga kerap dipentaskan sebagai hiburan. Biasanya tarian ini juga dipersembahkan untuk sambutan bagi para tamu yang datang.

Jadi bisa disimpulkan jika tari tradisional Minangkabau ini memiliki 2 fungsi utama, yaitu untuk ritual pada upacara adat dan juga sebagai sarana hiburan.

Keunikan Tari Piring

Begitu pertunjukan tari tradisional ini dimulai, setiap penonton pasti akan berdecak kagum menikmati keindahan setiap gerakan tarian dan pertunjukannya yang begitu sempurna. Selain dari gerakan, tari tradisional ini juga memiliki beberapa keunikan tersendiri, yakni seperti di bawah ini.

Piring Sebagai Media Utama

Sesuai namanya, Tari Piring ini menggunakan piring atau peeling sebagai media utama tarian. Piring adalah alat yang menjadikan tarian ini berbeda dengan tarian tradisional lain, sehingga membuat orang mudah membedakannya dengan tarian lain.

Baca juga :   Patut Berbangga, Pencak Silat Indonesia Sabet Juara Umum Belgia

Penggunaan piring pada gerakan tari sendiri tidak sembarangan, namun dengan makna tersendiri yaitu sebagai tempat meletakkan sesaji berupa makanan bagi para dewa. Ya walaupun saat ini makna tersebut seakan sudah terhapuskan, akan tetapi penggunaan piring masih terus dilanjutkan sebagai ciri khas

Gerakan Tari yang Cukup Unik

Piring yang menjadi media utama dari taran diletakkan di telapak tangan para penari dengan cara digenggam. Kedua telapak tangan menggenggam masing-masing satu piring berukuran sedang.

Selanjutnya para penari akan melakukan gerakan tangan dengan memutar lalu mengayunkan tangan dan piring. Gerakan dilakukan seirama dengan iringan musik yang cukup lembut.

Meskipun terdengar sederhana, namun ayunan tangan dengan piring tepat di telapak tangan penari harus selalu seimbang. Inilah yang menjadikan gerakan Tari Piring terlihat unik.

Banyak Alat Musik Pengiring Tari Piring

Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian tradisional ini bisa dikatakan cukup banyak, seperti saluang, gong, rebana, talempong dan juga berbagai macam alat musik lain.

Umumnya, lagu yang digunakan untuk mengiringi gerakan tari adalah lagu Kahian Sai Tiusuang dan takhian pingping khua belas. Pilihan lagu ini sesuai dengan gerakan tari yang begitu lembut dan cukup mendayu.

Sementara untuk irama yang dihasilkan pun cukup unik, mengingat musik pengiringnya sendiri merupakan perpaduan dari beberapa alat musik.

Penari Menari di Atas Pecahan Piring

Bukan hanya menggunakan piring sebagai media utama yang digenggam pada telapak tangan, akan tetapi penari juga akan melakukan gerakan tari di atas pecahan piring. Gerakan unik ini akan dilakukan pada akhir pertunjukan, dimana para penari akan melempar piring yang digunakan tadi ke lantai.

Selanjutnya para penari tersebut akan menari di atas pecahan piring yang telah dilemparnya tadi. Tentunya setiap gerakan tari di atas pecahan piring sudah dilakukan secara professional sehingga keselamatan penari tak perlu dikhawatirkan.

Ada Suara Dentingan Cincin

Terakhir, Anda juga bisa mendengar suara dentingan cincin selama pertunjukan Tari Piring berlangsung. Suara dentingan cincin ini seakan berpadu dengan suara iringan alat musik dan membuatnya terdengar lebih menarik.

Suara dentingan cincin ini dihasilkan oleh para penari. Jadi setiap dentingan seakan selaras dengan gerakan dari tari tradisional tersebut.

5 ciri utama tari tradisional Minangkabau di atas merupakan faktor-faktor penting yang menjadikannya begitu menarik dan bisa terkenal hingga ke mancanegara.

Ragam Gerak Tari Piring

Seperti yang telah dijelaskan singkat di atas, jika tarian ini menggunakan media utama piring yang digenggam pada kedua telapak tangan penari. Selanjutnya tangan penari akan melakukan gerakan mengayun mengikuti irama musik.

Selain gerakan utama tersebut, Tari Piring juga punya beberapa ragam gerakan lain, seperti gerakan persembahan, gerak mencangkul, gerak singanjuo lalai, gerak menyaring, gerak memagar, gerak membuang sampah, gerak menyemai, gerak bertanam, gerak mencabut benih dan juga gerak melepas lelah.

Beberapa ragam gerakan unik lain juga bisa Anda lihat pada pertunjukan tari tradisional satu ini, seperti gerak mengambil padi, gerak mengantar juadah, gerak menyabut padi, gerak menganginkan padi, gerak menggampo padi, gerak membawa padi, gerak mengikir padi, serak menumbuk padi, gerak menampah padi, gerak gotong royong, serta gerak menginjak pecahan kaca di akhir pertunjukan.

Setiap ragam Tari Piring di atas tentu akan dilakukan sesuai dengan upacara atau acara.

Busana Tari Piring Pria dan Wanita

Layaknya tari tradisional lain, tari tradisional piring juga punya busana khas untuk pementasan. Busana untuk penari piring pun ada dua yakni untuk penari pria dan penari wanita. Walau begitu, namun kedua jenis busana tari ini tetap terlihat seragam, sehingga ketika ada pementasan antara penari pria dan wanita tetap terlihat kompak.

Baca juga :   Pencak Silat, Seni Bela Diri Indonesia yang Mendunia

Penasaran bagaimana busana untuk Tari Piring? Berikut penjelasan lengkapnya.

Busana Untuk Penari Pria

Kostum yang digunakan oleh penari pria memiliki ciri yang cukup menonjol dibandingkan dengan busana yang dikenakan penari wanita. Meski begitu, keunikan dari busana penari pria ini tetap merupakan busana asli dari provinsi Sumatera Barat.

Penggunaan pakaian khas daerahnya, menjadikan penampilan penari pria dan wanita terlihat lebih kompak walau dengan detail model yang berbeda.

Busana penari pria ini mempunyai nama Rang Mudo, dimana busana ini didesain dengan lengan panjang dan memiliki hiasan missia atau yang lebih dikenal dengan hiasan renda emas.

Kemudian untuk celana yang dikenakan penari pria memiliki sebutan besaran gelombang, yang mana ukuran celananya cukup besar di bagian tengah dan pastinya memiliki warna selaras dengan warna atasannya.

Sebagai aksesoris, penari pria menggunakan sisampek dan cawek pinggang. Bentuk aksesoris ini menyerupai kain songket yang dikenakan pada pinggang ata diikatkan pada pinggang. Paduan antara baju dan celana polo serta kain ini menjadikan penampilan penari pria terlihat lebih menarik.

Panjang kain sisampek dan cawek pinggang sendiri bisa sampai lutut yang membuat penampilan penari pria terkesan lebih sopan. Sisampek dan cawek pinggang ini memiliki hiasan di bagian ujung, yakni berupa rumbai-rumbai.

Saat mementaskan Tari Piring, penari pria akan mengenakan destar. Destar ialah penutup kepala yang terbuat dari kain songket dan memiliki bentuk segitiga. Di bagian atasnya sendiri tak tertutup rapat seperti peci dan hanya berfungsi sebagai hiasan atau penutup kepala bagian depan.

Busana Tari Piring Wanita

Baju karung adalah nama kostum yang digunakan penari piring wanita saat pementasan. Busana ini biasanya menggunakan kain satin yang dipadukan dengan kain beludru.

Penari wanita un akan menggunakan selendang layaknya penari pria. Tentunya selendang yang digunakan juga terbuat dari kain songket dan dikenakan untuk hiasan. Aksesoris ini dikenakan pada bagian kiri tubuh.

Untuk bagian kepalanya pun menggunakan penutup kepala yang terbuat dari kain songket. Bentuknya mirip dengan tanduk atau berbentuk segitiga. Penutup kepala yang dikenakan penari wanita ini dinamai tikuluak tanduak balapak.

Tak hanya itu, penari wanita juga masih harus mengenakan aksesoris lain berupa kalung rumbai, kalung gadang dan juga subang atau yang lebih dikenal dengan anting-anting. Biasanya aksesoris penari wanita ini dibuat dengan model atau desain senada sehingga tampak serasi dan pastinya sesuai dengan desain perhiasan Minangkabau.

Perlengkapan busana penari piring tersebut harus dikenakan lengkap untuk menggambarkan pakaian adat Sumatera Barat. Selain pakaian, penari juga harus menggunakan piring sebagai medianya. Semua komponen tersebut menjadi satu kesatuan yang tak boleh tertinggal salah satunya.

Paket Wisata Untuk Menikmati Pertunjukan Tari Piring

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jika Sumatera Barat memiliki begitu banyak objek wisata menarik yang bisa Anda kunjungi. Setiap objek wisata di Sumatera Barat ini menawarkan keunikan masing-masing, mulai dari view, suasana, budaya dan lain sebagainya.

Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke daerah ini, mungkin akan mengalami sedikit kendala untuk menemukan semua objek wisata menarik disini. Tapi tak perlu khawatir karena saat ini banyak paket wisata yang bisa Anda gunakan untuk keliling Sumatera Barat.

Anda bisa puas menikmati semua objek wisata cantik dan seru disini tanpa harus memikirkan bagaimana transportasi dan rute menuju lokasi wisata. Tapi yang paling menarik, dari setiap paket wisata Sumatera Barat yang Anda ikuti, sebagian besar Anda akan mendapat penawaran untuk bisa menyaksikan pertunjukan Tari Piring.

Sama seperti di Bali, dimana para wisatawan bisa menyaksikan pertunjukan tari Kecak dan pertunjukan budaya khas Bali lainnya setiap malam. Beberapa sanggar di Sumatera Barat juga kerap menyelenggarakan pertunjukan Tari Piring untuk tujuan pertunjukan.

Baca juga :   Pam Pam, Si Lucu dengan Mata Mempesona

Hal ini tentu akan menjadi pengalaman yang tak kalah menyenangkan dibanding berkeliling Sumatera Barat dan menikmati seluruh objek wisata cantiknya. Selain bisa menikmati pertunjukan budaya, Anda juga dapat menyaksikan keunikan dari gerakan, iringan musik, busana hingga media tari yang digunakan.

Jika Anda beruntung dan datang pada tanggal-tanggal tertentu, Anda mungkin bisa menjumpai pertunjukan Tari Piring yang digelar pada acara besar. Semisal pada acara HUT RI yang mana tari tradisional ini seakan jadi sambutan wajib untuk setiap tamu yang datang.

Tentu selain sebagai sambutan, pertunjukan tari tradisional ini juga sebagai bentuk hiburan bagi tamu yang hendak menjalankan upacara peringatan HUT RI.

Begitu menariknya kekayaan budaya Indonesia satu ini hingga sangat disayangkan jika Anda melewatkannya begitu saja. Ya meskipun saat ini untuk menikmati pertunjukan Tari Piring Anda tak harus ke Minangkabau Sumatera Barat.

Kini pertunjukan tari tradisional ini sudah banyak digelar di daerah lain bahkan di Negara lain untuk acara-acara tertentu.

Kesimpulannya, tari tradisional piring merupakan kekayaan budaya yang berasal dari Minangkabau, tepatnya kota Solok provinsi Sumatera Barat. Dari tempat ini awal mulanya tari tradisional ini difungsikan sebagai tari untuk ritual persembahan sesaji bagi para dewa, namun seiring berkembangnya jaman ritual tersebut mulai dihilangkan dan tarian hanya difungsikan sebagai sarana hiburan.

Sesuai namanya, Tari Piring ini menggunakan piring sebagai media utamanya. Selain memiliki makna tersendiri, piring juga menjadi ciri khas sekaligus keunikan yang dimiliki oleh tarian khas tanah Minangkabau ini.

Sementara untuk ragam geraknya total terdiri dari 21 gerakan yang masing-masing juga memiliki makna tersendiri. Benar, ragam gerak dari tarian ini memiliki makna ataupun digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi tertentu.

Untuk pementasannya sendiri tata panggung yang digunakan sangat sederhana bahkan tak memiliki properti khusus. Hanya saja pertunjukan terlihat menarik karena paduan gerakan penari, iringan musik dan juga busana yang dikenakan penari pria maupun wanita.

Dengan busana khas Minangkabau, para penari piring akan berlenggak-lenggok memperagakan setiap gerakan tari. Warna merah yang mendominasi pada pakaian penari piring pun menambah kesan semangat dan menarik pada pertunjukan tersebut.

Terlebih lagi dengan aksesoris yang digunakan, seperti perhiasan yang dikenakan oleh penari wanita, atau aksesoris kain songket yang digunakan oleh penari pria maupun wanita. Paduan warna merah dan gold memberikan kesan yang begitu mewah dan tampak menyala.

Kekayaan yang tak ternilai harganya ini tentu harus terus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda-mudi. Pengenalan lebih tentang Tari Piring perlu dilakukan agar kekayaan budaya ini tak tenggelam oleh waktu dan akan terus dipentaskan.

 

Leave a Comment