Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan – Part II 2.5/5 (2)

Berlibura merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu dikala kita mendapat banyak beban dan tanggung jawab. Banyak tempat yang bisa kita pilih, tapi, yang palingsesuai untuk menenanggkan diri adalah liburan di alam bebas. Seperti yang saya lakukan bersama teman-teman.

Liburan akan semakin seru jika berkunjung ke tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Apalagi liburannya selama dua hari satu malam, rame-rambe bareng teman, pasti akan semakin menantang.

Melanjutkan cerita part 1 kemarin, kami memiliki rasa penasaran yang sama untuk mengikuti liburan yang diadakan oleh pengasuh asrama. Pasalnya bayak persiapan yang harus kita lakukan untuk dapat mengikuti agenda ini. Pastinya agenda ini bukan agenda liburan biasa.

Berangkat Menggunakan Truk

ilustrasi | gkbikrg.wordpress.com

Semua barang yang kita persiapkan sudah kita masukkan ke dalam truk, kami pun ikut masuk ke dalamnya. Suara mesin diesel yang terdengar semakin kencang menandakan truk sudah mulai meluncur menuju ke lokasi liburan kita.

Terlihat pada jam tangan saya, jarum kecil yang sedang menunjuk angka dua, hari terasa begitu terik. Menegadah ke langit terlihat langit biru yang begitu cerah dan awan putih berlalu-lalang seakan melindungi kita dari sengatan matahari. Kondisi yang tepat untuk berlibur.

Selama perjalanan, tidak banyak pemandangan yang bisa kita lihat, karen kita menggunakan truk terbuka. Hanya terlihat langit biru dan dedaunan pohon yang terlintas di atas kepala kita.

Untuk memecahkan kebosanan selama perjalanan, kami menyanyikan nasyit perjuangan untuk membakar semangat kami. Beberapa lagu-lagu nasyid Indonesia yang mereka hafal pun bermunculan, seperti Shoutul Harokah, Izzatul Islam, Ar Rugul Jadid dan beberapa lagu yang saya sendiri tidak hafal. Lantunan lirik lagu nasyid ini begitu sayahdu sakan mewakili jiwa muda  kami yang haus akan perjuangan.

Karena yang hafal lagu nasyid tidak semua, akhirnya yang nyanyi pun capek. Kebanyakan teman-teman cuma dikit-dikit hafalnya, kalau ada yang menyanyi, dikit-dikit kita nyambung. Akhirnya lantunan nasyid kita akhiri.

Cari permainan lain yang bisa menghibur, akhirnya kami pun dapat hiburan lain yang cukup menghibur. Bullying, kalau dalam bahasa Indonesia namanya jadi membuli, merupakan kegitan yang paling ampuh untuk membuat orang ketawa. Tapi kegitan membuli ini hanya bisa dilakukan apabila kita sudah kenal akrab dengan teman kita.

Kalau kami sendiri,  sudah hidup bersama selama hampir satu-setengah tahun, pastinya sudah tahu luar-dalam masing-masing dari kita. Jadi, kegiatan membuli tidak akan membuat orang yang dibuli tersakiti.

Orang yang pertama jadi korban dalam kelompok kita adalah si Anjar. Anjar ini orangnya rada koplak-koplak gimana gitu. Orangnya itu kalau diasrama pasti tidak bisa diam, ngerjain orang adalah kegitan tutinitasnya. Ada temen yang lagi serius dia bercandain, ada yang lagi kena masalah dibercandain, pokoknya tidak ada orang yang pernah lolos dari kejailannya.

Tapi meskipun begitu, ia menjadi orang cukup penting di kampus. Saya juga heran, kenapa orang seperti ini bisa jadi orang penting di kampus hehe.

Kenyang dengan bullying, tanpa sadar kita sudah dekat dengan lokasi. Angin pantai berhembus dari sela-sela tebing terasa sampai kedalam truk kita.

Tak menunggu lama, akhirnya kita sampai di Pantai Krakal sebagai titik start wisata pantai kita. Kami pun segera turun dan menikmati seindahan pantai disenja hari sebelum acara dimulai. Tak lupa kami mengabadikan momen langka ini dengan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan untuk memupuk kembali ukhuwah diantara kita.

blog.reservasi.com

Dari kejauhan, terlihat Pak Herman yang gagah, berjalan menghampiri kita. Beliau terlihat gagah dengan seragam trainer yang ia kenakan dan tubuh kekarnya. Dengan segera kita mempersiapkan diri untuk menerima instruksi selanjutnya dari beliau.

“Siap grak, Lencang depan grak … !”, Pak Herman menyiapkan barisan kita.

Dengan asisten dan para musyrif disamping kanan dan kirinya, beliau mulai menjelaskan konsep yang selama ini dirahasiakan kepada kita. Tak lupa beliau mengingatkan kepada peserta untuk senantiasa meluruskan niat kepada Allah, supaya kegitan yang kita lakukan mendapat pahala di sisi Allah SWT.

Konsep Liburan yang di Luar Nalar

desktopography.net

Melihat wajah bahagia anak-anak yang penuh semangat , beliau tanpa lanjut  menjelaskan konsep liburan yang akan kita jalani.

“Assalamu’alaykum…, masih semangat anak-anak?”, seru Pak Herman.

Diawali dengan menjawab salam dari Pak Herman, kami dengan semangat mengucapkan “masih …!”, dengan nada lantang.

Satu demi satu konsep liburan dijelaskan oleh beliau. Terlihat wajah anak-anak yang sebelumnya bersemangat berubah  merengut seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen sama orang tuannya.

Bagaimana tidak merengut, beliau menjelaskan bahwa kita akan menghabiskan libura selama dua hari ini di sepanjang pantai selatan. Start dari pantai krakal malam hari, dan berakhir di pantai yang masih dirahasiakan.

Di sepanjang malam kita akan menyusui pantai selatan dengan berjalan kaki. Terlihat sekilas dari kejauhan, jalan putih berbatu yang akan menemani perjalanan kita. Kami pun mempersiapkan diri untu menjusuri jalan itu.

Makan Malam Spesial

SeputarJawa.Com

Melakukan perjalanan menggunakan truk terbuka, membuat energi kita terkuras, apalagi selama perjalanan, kita habiskan waktu dengan bernasyid dan membuli orang. Perut terkocak-kocak membuat rasa lapar ini bertambah parah. Tapi karena kita cuma peserta yang takut dengan instruktur, kami pun diam saja dengan rasa lapar ini.

Ahirny Pak Herman memberitahukan kalau kita akan makan sebentar lagi. Kabar ini terdengan begitu menyejukkan ditelinga, seakan nyebur kelaut merasakan kesegaran air laut. Tapi, sebelum makan malam, kita sholat magrib berjama’ah terlebih dahulu, karen waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.

Tanpa pusing-pusing mencari air wudzu, kami pun mengambil air laut untuk membersihkan tuhuh kita dari najis yang dari tadi siang menempel di tubuh kita. Air laut dimalam hari dibarengi angin laut yang langsung menghantam tubuh kita terasa dingin menusuk tulang.

Sholat magrib kami laksanakan di atas pantai dengan memakai sepatu dan beralaskan dedaunan sebagai tempat sujud kami. Saya merasakan betapa nikmatnya sholat di alam bebas bersama teman-teman.

Karena ada uzur, sholat isya’ kita jama’ dengan sholat magrib, supaya tidak mempersulitkan kita dalam beraktifitas. Sholat berjama’ah berakhir dengan salam dari imam dan dilanjutkan dengan dzikir setelah sholat.

Waktunya makan malam tiba, seperti tradisi di pondok, kita makan bersama dalam dalam satu wadah. Tapi kali ini wadahnya agak spesial, kita menggunakan daun pisang sebagai alas makan. Sebelum ada aba-aba dari instruktur, kita tidak boleh sedikitpun makan.

Pak Herman memimpin do’a makan untuk meminta keberkahan dari Allah, setelah itu beliau menginstruksikan kepada peserta kalau makan kali ini haurs selesai dalam waktu 30 detik. Sontak, saya pun kaget, makanan sebanyak ini harus diselesaikan dalam waktu 30 detik?.

Suara peluit dari Pak Herman menandakan detik pertama waktu kita makan. Tanpa bosa-basi, kami langsung menyantap makanan di hadapan kita. Kerikit dan pasir pantai menjadi lauk yang menemani makan malam kita, terasa seperti krupuk yang menggigit lidah.

“Prittt…”, suara peluit dari Pak Herman terdengar kembali, tanda waktu makan sudah selesai.

Tak satupun dari kita yang bisa menyelesaikan malam, semua peserta dihukum berguling dipinggir pantai dengan kepala mendarat terlebih dahulu. Makan malam kami pun berakhir dengan tragis.

Perjalanan Menyusuri Pantai

unsplash.com

Perjalanan baru akan dimulai. Kenyang dengan makan malam yang berkesan, kita memulai perjalanan menyusuri pantai selatan. Diawalai oleh Pak Herman yang memimpin di depan, para peserta mengikuti beliau satu persatu. Di belakang rombongan ada Pak Roy (asisten Pak Herman) untuk memastikan semua peserta tidak ada yang tertinggal.

Batu kapur putih menjadi track perjalanan kita. Tajamnya batu terasa sampai ke telapak kaki. Beruntung teman yang menggunakan sepatu lapangan dengan permukaan sepetu yang lebih tebal, jadi tajamnya bebatuan tidak terasa begitu terasa.

Beberapa menit melewati jalan berbatu, kita mengalami kesulitan berjalan, panjangnya peserta yang berjejer mengakibatkan perjalanan menjadi lama. Akhirnya rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Satu dipandu oleh Pak Herman, yang satunya lagi dipandu oleh Pak Roy.

Saya termasuk dalam rombongan pertam yang dipandu oleh Pak Herman.

Laju rombongan terasa agak lebih cepat setelah dibagi menjadi dua. Kita pun melaju duluan meninggalkan kelompok dua beberapa meter untuk menjaga traffick perjalanan supaya lancar.

Dengan penerangan dari senter, terlihat dari kejauhan ada semacam semak belukar dari rumput Gajah yang menghadang perjalanan kita. Saya fikir mustahil bisa melewati semak-semak ini, pasalnya tidak terlihat jalan yang layak bagi pejalan kaki.

Dipandu oleh Pak Herman, kita memberanikan diri melewati rimbunnya semak belukar itu. Diringi rasa takut dan khawatir saya melanjutkan perjalanan di belakang Pak Herman. Rasa takut ini bukan karena takut ketemu hantu atau Nyai Roro Kidul, tapi karena takut terjatuh ke jurang dan digigit ular. Soalnya, gemuruh ombah terdengar jelas di kanan dan kiri jalan.

Berbagai pantai sudah kita lalui, start dari pantai Krakal, pantai Sarang Gunungkidul, pantai Ngrumput, dan pantai Drini. Di pantai Drini, kita merebahkan tubuh sejenak untuk mendinginkan panas tubuh karena semalaman menyurusi pantai. Meskipun diterpa angin pantai yang kencang, tak membuat tubuh ini merasa kedinginan. Terlihat di jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 1.00 WIB dini hari.

Rasa lelah pun terobati, kita melanjutkan perjalanan ke pantai sebelahnya, yaitu pantai Watu Kodok. Disana kita mendirikan tenda sekadarnya dan beristirahat sampai waktu subuh.

matajatim.com

Kreatifitas panitia dalam membangunkan peserta perlu diacungi jempol. Dalam kondisi badan capek, kami dibangunkan dengan menggunakan petasan kembang api. “Dar…Dor…..”, terdengar suara letusan yang memekikkan telinga, membuat kita panik sehingga rasa malas untuk bangun pun hilang. Kami bangun dan melakukan sholat subuh berjama’ah.

Perut terasa lapar, Pak Herman memberikan tantangan kepada peserta untuk mencari segala hewan laut yang bisa dimakan. Tak mememiliki keahlian menangkap hewan laut, saya menemukan hewan yang namanya bulu babi. Meskipun namanya bulu babi, tapi hewan ini tidak se-haram kedengarannya. Hewan ini dinamakan bulu babi karena bentukknya yang banyak durinya sehingga menyerupai babi hutan. Tapi pada dasarnya hewan ini seperti kerang laut yang halal untuk dimakan.

lahaduta.wordpress.com

Nyam…nyam….,, kami meinkmati sea food di pinggir pantai, para penghuni pantai selatan pun lalu lalang untuk beraktifitas, yaitu para nelayan yang sedang mengkap ikan hehe.

Karena kegitan kami memakai jalanan mereka, kami sebagai pendatang memberi salam  sebagai rasa hormat kepada kepada mereka.

Perjalanan susur pantai selatan kami lanjutkan dengan melewati  pantai Sangen, pantai Sepanjang dan pantai Kukup. Perjalanan hari ini sedikit berbeda dengan malam hari, karen kita bisa menikmati keindahan pantai ciptaan Allah SWT.

Perjalanan kami berakhir di pantai Baron. Tak melewatkan kesempatan langka, kami mencicipi  makanan di pantai baron yang terkenal dengan sea food-nya. Happy ending, perjalanan yang penuh keseruan terlah berakhir, tak lupa kami foto bersama untuk mengabadikan moment langka ini.

Demikian ceraita saya, banyak keseruan yang saya dapatkan dari penjelajahan ini. Temen-temen pasti punya cerita yang lebih seru dari saya, jangan lupa share dan komen di kolom di bawah ini :-).

Please rate this

Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan No ratings yet.

Yogyakarta merupakan kota dengan berbagai macam budaya dan wisata alamnya yang menyejukkan. Banyak tempat-tempat eksotik yang bisa menjadi pilihan liburan kita, terutama daerah pantai dengan ombaknya bergemuruh.

Ketika sedang main di pantai selatan, kita dilarang berenang jauh dari pantai. Konon katanya, selain ombak besar yang bisa menyeret kita, ada juga mitos yang mengatakan pantai selatan dihuni oleh sesok mahluk halus yang cantik jelita yang bernama Nyai Roro Kidul.

Mitos ini populer dikalangna masyarakat Jawa dan Bali. Sesosok roh atau dewi legendaris ini dikenal sebagai Ratu Laut Selatan (Samudra Hindia) dan secara umum disamakan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Ada sebuah pantangan yang dipercayao oleh masyarakat Yogyakarta dan para wisatawan yang berkunjung ke pantai selatan, yakni kita dilarang memkai baju hijau ketika berkunjung ke pantai selatan. Konon katanya, barang siapa yang melarang pantangan ini, maka ia akan digulung ke dalam lalut oleh Nyai Roro Kidul.

neomisteri.com

Sampai sekarang, kita tidak tahu apakah mitos ini benar atau salah. Yang pasti, segala mara bahaya itu pasti ada, yang bisa kita kalukan adalah berhati-hati dan minta pertolongan dari yang diatas.

Saya sendiri juga punya pengalaman yang cukup menegangkan dipantai selatan. Sebenarnya cerita ini belum pernah saya ceritakan kepada khalayak umum. Tapi pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan kepada temen-temen supaya temen-temen tahu fakta dibalik pantai selatan yang belum banyak orang tahu. Kejadian itu saya alami ketika saya sedang liburan akhir semester bersama teman-teman.

Liburan Akhir Semester

unsplash.com

Kehidupan kampus yang penuh tekanan merupakan hal wajar bagi seorang mahasisiswa. Berhari-hari tidak tidur untuk mengerjakan laporan, nginep di kos temen untuk mengerjakan projek, ke lembaga pemirintah untuk mencari data. Hal-hal semacam ini sering saya lakukan selama menjadi mahasiswa dalam rangka menyelesaikan tugas dari kampus.

Meskipun kelihatannya menjadi mahasiswa itu santai, masuk kuliah tidak setiap hari, tapi sebenarnya tugas yang diberikan lebih banyak dari kapasitas hari yang ada.

Jadi, bagi kalian yang belum pernah merasakan bangku kuliah, jangan membayangkan bahwa kuliah itu menyenangkan, masuk kuliah jarang, pilih jadwal sesuka kita, bisa pilih hari libur sendiri dan banyak presepsi yang mennganggap jadi mahasiswa itu enak.

Tapi memang, ada beberapa jurusan yang memang cukup santai dalam pembelajarannya.Tapi, kebetulan saya menjadi mahasiswa teknik, jadi saya merasakan pahitnya jadi mahasiswa yang dikejar-kejar laporan dan tugas hehe.

Menjadi mahasiswa teknik memang penuh tekanan, tapi ada enaknya jadi mahasiswa, yakni masa liburan semester yang panjang hehe.

Liburan semester yang paling berkesan bagi saya adalah pada liburan semester 5. Pada saat itu, saya masih nyantri di asrama IC seturan. Pengasuh asrama berencana mengadakan agenda liburan untuk para santri sebelum pada pulang ke rumah masing-masing untuk menghabiskan liburan, supaya ada kenang-kenangan selama nyanti, dibuatlah liburan semester bersama satu asrama.

Kita disuruh mengsongkan segala agenda dihari yang sudah ditentukan. Beberapa teman ada yang meminta izin kepada musyrif (pengsuh asrama) untuk tidak mengikuti agenda liburan itu karena sudah ada agenda dikampus.

“Mas, saya izin tidak ikut liburan bareng karena sudah ada agenda di kampus”, ucap teman saya.

“Tidak ada yang bole izin. Boleh izin cuma dua alasan, mati dan menikah”, seru musyrif saya.

Aturan tadi menjadi harga mati untuk para santri supaya tidak ada yang izin dari agenda liburan bareng.

Akirnya kita me-reschedule agenda kampus yang sudah jauh-jauh hari kita rencanakan. Permintaan maaf kita lontarkan kepada teman-teman kampus karena kita tidak bisa mengikuti agenda kampus yang telah direncanakan.

Tugas-tugas yang Aneh

unsplash.com

Fixed !, semua santri ikut dalam liburan akhir semester. Hambatan sudah dilewati, tugas yang selanjutkan diberikan kepada para santri adalah mempersiapkan peralatan yang akan kita gunakan selama liburan.

Ada banyak peralatan yang ditugaskan kepada kita, yang saya ingat ada sepatu lapangan/sepatu cat, tali pramuka, tongkat pramuka, sliping bag, kompor portable (kelompok),  pisau lapangan, singkong dan masih banyak yang tidak saya ingat.

Saya berfikir yang neko-neko dengan tugas yang diberikan ini.kok tugasnya suruh bawa ginian, liburannya seperti apa ya?”, fikir saya.

Memang kita sebagai santri tidak diberitahu oleh musyrif tentang konsep liburan yang akan kita jalani. Kita hanya diberitahu kalau liburan kita akan berlangsung selama dua hari, jadi kita disuran membawa berbekalan dan peralatan untuk bekal hidup selama dua hari.

Beragam pertanyaan muncul dari teman-teman. Dengan nada bercandanya, teman saya menyindir musyrif yang merahasiakan konsep liburan kita.

“Wah, harus bikin surat wasiat dulu nih sebelum berangkat liburan”, ujar teman saya.

wkwkwkwkwkw….

Sontak, kamipun tertawa terbahak-bahak karena candaanya itu.

Komitmen denan pendiriannya, musyrif kami tidak memberitahukan konsep liburan yang akan kita alami.

Diksempatan lain, kami dikumpulkan untuk TM (Technical Metting) sebelum keberngkatan. Poin penting yang ditekanan dalam TM tersebut adalah kita disuruh menbawa segala perlengkapan yang sudah ditugaskan dan harus sesuai standar. Kalau tidak sesuai standar, maka akan diberi punishment.

Persiapan yang Matang

unsplash.com

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari Sabtu-Ahad adalah hari yang tepat untuk berlibur, apalagi setelah satu semester penuh dikejar-kejar laporan dan tugas yang menumpuk. Belum lagi disempurnakan dengan UAS (Ujian Akhir Semester) yang bikin was-was.

Jadilah liburan ini sebagai pelarian stress satu semester yang sudah meradang.

Sebelum berangkat, kami dikumpulkan terlebih dahulu di depan asrama untuk persiapan. Tugas-tugas yang telah diberikan dichek satu persatu kelengkapanya, jika ada yang tidak lengkap atau ada yang tidak sesuai dengan standar dikasih punishment.

Ternyata benar prediksi saya, banyaknya item yang ditugaskan untuk dibawa membuat kita terlewat beberapa barang. Alhamdulillah-nya, saya membawa semua peralatan yang sudah ditugaskan. Tapi, tanpa disangka-sangkat, sepatu saya kurang standar, jadinya saya dapet punishment juga.

Teman saya ada yang lupa tidak bawa ikat pinggang, dia diberi waktu untuk mencari atau meminjam kepada teman yang memiliki lebih. Setelah bertanya kepada teman-teman asrama, tidak satupun yang memiliki ikat pinggang berlebih. Adapun yang memiliki lebih tapi keadannya sudah memprihatinkan.

Akhirnya, teman saya tadi memutar otak supaya esensi dari ikat pinggang bisa terpenuhi. Dijadikanlah tali rafia menjadi ikat pinggang untuk ikat pinggangnya.

“Kreatif bener,…”, ucap saya sambil geleng-geleng.

Tidak ada kata ampun untuk yang tidak membawa tugas dan tidak sesuai standar.

Seorang instruktur yang bertugas memandu kami selama liburan menghitung dari angka 1 sampai 20 sebagai jumlah push up yang harus kita selesaikan, namanya bapak Herman. Beliau sudah memiliki jam terbang tinggi dalam karirnya sebagai seorang trainer.

Tak sampai hitunggan ke-20, teman-teman pada bergelimpangan karena tidak kuat menahan lemak yang mempel di tubuh bertahun-tahun :-).

Hitunganpun dilanjutkan untuk menyelesaikan punishment yang belum selesai.

Semua perlengkapan sudah komplit, kamipun siap meluncur ke lokasi.

Tapi, sebelum berangkat. Kiata ada upacara pembukaan sebagai kegiatan formal yang diadakan oleh pihak asrama. Upacara berisi kegitan sederhana, yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Ustad pengasuh asrama kami, beliau memberikan tausiah singkat akan pentingnya liburan yang penuh misteri ini hehe.

Tak lupa, beliau juga menyerahkan tanggungjawab atas hidup-mati anak-anak kepada pak Herman sebagai trainer yang akan memandu kita selama berlibur.

Upacara pembukaan ditutup dengan penghormatan dan bembuaran oleh pemimpin upacara.

Selanjutnya, dengna semangat kita mengangkat barang-barang kita kedalam truk sebagai alat transportasi yang akan mengantarkan kita sampai ke lokasi yang kita tuju.

Bersambung, “Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penguhi Pantai Selatatan – Part II

Baca juga:

 

Please rate this

Mendapatkan Gambar Resoulis Tinggi dengan Mudah [Google Custom Search] No ratings yet.

Anda membutuhkan gambar dengan resoluti tinggi ?. Berikut ini adalah Google custome search yang bisa membantu Anda mencari gambar dengan kualitas terbaik. Diambil dari 10 situs penyedia gambar terbaik dunia. Chek it out !.


Please rate this

Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT – Part II 5/5 (1)

Banyak cara untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita. Salah satunya adalah dengan mentadaburi ayat-ayat Allah. Ayat Allah terbagi menjadi dua bagian, ayat-ayat Qouliyah dan ayat-ayat Kauniyah.

Ayat Qouliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah SWT yang tercantum dalam Al Quran. Ayat-ayat ini menyentuh segala aspek kehidupan kita, dari pertama kali kita di lahirkan di dunia sampai meninggal dan dihisab di ahirat kelak.

Coba perhatikan makna dari ayat ini :

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman; sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. QS  At-Tin (1-5).

Dari ayat ini, kita bisa mengambil hikmah kehidupan. Bagaimana Allah menciptakan buah Tin untuk manusia dan bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit wasir dan encok.

Serta, buah Zaitun yang memiliki banyak manfaat, seperti : mencegah berbagi macam kangker, mencegah penuaan dini, menyehatkan pencernaan dan masih banyak manfaat yang dapat diambil oleh manusia.

Dari dua buah ciptaan Allah tadi, kita bisa mengambil pelajran, betapa Allah menciptakan dua buah yang sangat bermanfaat untuk manusia, kemudian Allah melanjutkan firmannya tentang penciptaan manusia. Diaman kita diciptakan sebagi makluk yang paling sempurna.

Jika kita bertakwa kepada Allah, maka kita akan mendapatkan Syurga yang telah dijanjikan. Kalau kita ingkar pada perintahnya, maka kita akan dikembalikan ke tempat yang seredah-rendahnya, yaitu neraka jahanam.

Masih banyak ayat yang serupa dengan surat At-Tin ini, dimana kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya.

Ayat Kauniyah adalah ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di muka bumi. Tanda-tanda ini seperti sebuah gunung yang menghujam tajam ke dalam perutbumi, matahari-bulan yang silih berganti siang dan malam, serta masih banyak lagi.

Ayat Al Quran yang melandasi ayat Kauniyah ini seperti yang terdapat dalam QS Nuh:53 :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Dari ayat inilah, kami meniatkan diri untuk mencarai pahala dari Allah. Yakni, mentadaburi ayat-ayat Kauniyah dengan berlibur ke pantai Ngeden 🙂 .

Keseruah Baru Akan Dimulai

thefledglingsthoughts.com

Jalanan yang mencekam sudah kami lalui, alhamdulillah kita bisa sampai di pantai Neden dengan selamat.

(baca : Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT – Part I)

Melihat jam tangan, waktu menunjukkan sekitar pukul 23.00 wib, berarti perjalanan sekitar 2 jam dari pusat kota Jogja. Terlambat setengah jam dari jadwal yang direncanakan.

Tanpa berlama-lama, kita mengumpulkan barang bawaan kita dan membawanya ke spot yang kita tuju. Satu persatu anggota membawa barang dipundaknya.

Jalan setapak berbatu menjadi jalan satu-satunya yang harus kita lewati untuk sampai ketempat tujuan. Tebing berbatu yang curam menutupi kita dari hembusa angin pantai yang dingin menusuk tulang. Semak-semak dipinggir jalan terlihat samar  melambai-mabai seakan menyambut kedatangan kami.

“Masya Allah…., Amazzing, Luar biasa …!”. Ucapan kekaguman teman-teman yang mengiringi perjalanan kami.

Cahaya bulan yang menyinari pantai membuat karang disepanjang pantai menampakkan bentuk gagahnya. Deburan ombak yang menghantam karang terdengar bergemuruh hingga airnya bisa kita rasakan menempel diwajah kita .

Karena malam menghalangi kita untuk melihat keindahan alam patai Ngeden, kami pun tidak berlama-lama menatap keindahan karang itu. Masih ada hari esok yang bisa memuaskan hasrat kita untuk menikmati keindahan ciptaan Allah ini.

The Spot

jelajahjogja.com

Jalan setapak berbatu telah kami taklukkan. Nampak terlihat sebuah gubuk yang sederhana nan elok. Otot-otot yang tadinya kencang menahan rasa sakit mulai melemas, kurang sebentar lagi kami akan sampai di tempat peristirahatan.

Akhirnya, langkah terakhir kami mendarat di titik paling ujung pantai Ngeden. Kami duduk-duduk sambil melurusnan kaki yang telah berjuang keras melewati jalan berbatu.

Barang-barang kami  turunkan untuk bisa dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Karena gubuk terlihat agak kotor, akhirnya kami membersihkannya dulu sebelum digunakan.

Berrr…. dingin…

Dingin-dingin seperti ini enaknya minum yang hangat-hangat sambil makan cemilan. Sesuai rencana, kami  tidak langsung tidur, melainkan menikmati malam minggu di pinggir pantai sambil minum susu hangat ditemani cemilan ala Jogja.

Sharing yang Menentukan Masa Depan

edgecastcdn.net

O iya, temen-temen belum pada kenal ya, siapa aja mahluk-makluk yang ikut camping ini :-).

Pingin tahu ?

Oke, saya kenalkan satu persatu.

Yang kita anggap sebagai ketua perjalanan  namanya Fariz,  ia menjabat sebagai ketua LDK (lembaga dakwah kampus) yang betanggungjawab atas tersibgohnya nilai-nilai Islam di kampus UPN.

Yang kedua namanya Haidar, sosok yang murah senyum itu putra kelahiran Surabaya yang menjabat sebagai wakil ketua LDK yang membantu Faris.

Sebagai juru kunci kita yaitu Abi Setiawan, dia merupakan putra asli Gunung Kidul, dia kita culik untuk memandu kita berlibur di pantai Ngeden hehe.

Kalau di kampus, dia memiliki amanah sebagai ketua ALAMADA (lembaga dakwah tingkat fakultas).

 Brilian dan Ikhsan, dua orang ini adalah kader yang sangat militan, amanahnya sebagai ketua KAMMI dan anggota.

Selanjutnya Saya sendiri dan Fahri, kami bukan siapa-siapa, cuman pernah eksis di dunia kampus hehe.

Malam minggu yang nyaman itu kami gunakan untuk ngobrol-ngobrol tentang dunia kampus, karena memang tidak ada obroloan yang lebih seru daripada ini hehe.

Para jomblo-jomblo super ini, merupakan orang-orang yang cukup penting di kamus, pasalnya, eksistensi nilai-nilai Islam di kampus menjadi tanggungan mereka.

Supaya lebih berkah, sharing-sharing kali ini kami awali dengan membaca basmallah. Dimulai dengan prolog dari mas Fahri, satu demi satu mengeluarkan unik-uneknya selma mengemban amanah.

Sebagai orang yang pernah eksis dilembaga kampus, saya memahami perasaan mereka. Memang berat memegang amanah, tapi mau tidak mau amanah tersebut harus dijalankan dengna ikhlas.

Dengan wajah sedikit meng-iba, saya memberi nasehat kepada mereka, bahwa masa-masa yang mereka hadapi sekarang, juga pernah saya alami ketika menjabat dulu. Hal itu sudah biasa.

Nasihat yang paling ampuh saya lontarkan adalah, “Minta pertolongan sama Allah, pasti Allah akan menolong hambanya yang mengurusi Agama Allah”. Nasihat itu saya tutup dengan mengingatkan mereka akan janji Allah dalam QS. Muhammad ayat 7.

Sharing-sharing mode serius kita akhiri, kita beralih ke ngobrol santai sambil bercanda tawa. Entah kenapa, nge-buli merupakan jurus ambuh untuk mendaptkan tawa anak-anak. Semoga yang dibuli tidak merasa terdzolimi, sehingga dia tidak mengadu sama Allah, :-).

Waktu menunjukkan pukul 1.00 Wib, kami pun mengahiri sharing-sharing kita dan beristirahat.

Sholat Subuh Berjama’ah

ilmfeed.com

Terdengar samar suara seorang wanita yang sedang bercanda. Diantar sadar-tidak sadar saya mencoba memastikan diri, saya sedang bermimpi atau sudah bangun ?. Ternyata saya setengah sadar dari tidur saya.

Dipenuhi rasa penasaran, saya bertanya-tanya, suara siapa ini ?.

“Jangan-jangan….. jangan-jangan…..”, perasaan penuh tanda tanya.

“Jangan-jangan suara Nyi Roro kidul nih, ini kan pantai selasan”, dalam hati saya.

Akhirnya saya bangun dari tidur dan mencari tahu dari mana sumber suara tersebut. O… ternya suara itu berasal dari orang-orang yang kamping di pasir putih yang kita temui tadi malam. Astagfirullah halazim (sambil menghela nafas), hati ini merasa tenang. Melihat jam yang ada di Hp masih pukul 4.00, belum waktunya subuh. Jadinya saya melanjutkan tidur hingga azan subuh berkumandang.

Allahuakbar Allahuakbar….

Terdengar suara azan dari teman saya, dengan bergegas saya pun bangun dari tidur dan mengambil air wudzu dari galon berisi air yang kita bawa dari rumah. Tidak terdengar azan dari Mushola/Masjid terdekat. Mungkin karena daerah yang kita tempati jauh dari pemukiman warga, makannya tidak terdengar azan dari spaker Masjid.

Kami pun melaksanakan sholat shubur berjama’ah dan melanjutkannya dengan dzikir Al Ma’tsurah.

Menikmati Sunrise

unsplash.com

Terlihat garis cahaya yang lurus dari arah timur sampai ke barat, semakin lama semakin terang. Sang surya mulain menampakkan wajahnya di muka bumi yang terlihat sangat indah.

Tak mau ketinggalan moment indah ini, kami abadikan semua keindahan ini sebagai kenang-kenangan yang akan kita ceritakan kepada teman-teman yang lain, betapa indahnya ciptaan Allah SWT. Bergantian kami saling memfoto, sesekali kami foto bersama menggunakan three pot sebagai perlengkapan wajib untuk mengabadikan foto alay kita hehe.

Dari atas tebing, kami melihat kesibukan nelayan yang hilir mudik memacu kapalnya untuk mengambil jebakan yang sudah mereka pasang tadi malam. Satu persatu jebakan mereka angkat ke permukaan, terlihat agak samar, para nelayan mendapatkan lopster yang ukuranya agak lumayan, kira-kira seukuran hp Lenovo saya.

Sebagian nelayan lain sibuk memancing dari pinggir pantai. Mungkin, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk memancing ikan karena ikan-ikan pada lapar semalaman tidak makan hehe.

Membuat Vlog

becboop.com

Momen-momen langka terlau sayang dilewatkan kalau tidak diabadikan dalam bentuk video.

Tidak mau ketinggalan, meskipun kita dianggap sebagai anak Masjid, kami juga bisa exsis seperti mereka yang punya jutaan follower yang setia mantengin timeline mereka

Semua moment yang berharga kami dokumentasi, naik ke tebing, melihat keindahan karang, bermain pasir di pantai dan moment-mement yang lainnya kami abadikan dalam bentuk video.

Di depan kamera, ke kocakan anak-anak muncul semua, sampai-sampai baterai handycam yang kita bawa tidak mampu lagi mempertahankan kesadaranya, berakhirlah kekocakan anak-anak.

Kami rasa, waktu kita bermain-main sudah selesai, kami memutuskan untuk pulang ke Jogja.

Perjalanan Pulang

quick-loan.ca

Perjalanan pulang terasa tidak terlalu menegangkan seperti semalam. Kali ini jalanan terlihat jelas oleh mata, sehigga indra penglihatan kita bisa mendeteksi semua halang rintang yang ada di jalan.

Singkat certita kami pun sampai di Masjid kampus dengan selamat. Satu persatu izin pulang ke kos masing-masing untuk istirahat lebih pulas.

Demikianlah cerita singkat dari saya. Banyak tempat-tempat yang indah nan cantik yang bisa kita nikmati sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Please rate this

Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT No ratings yet.

Menjadi mahasiswa yang aktif berorganisasi, menjadikan otak kita bekerja lebih ekstra. Selain dituntut bagus dari secara akademin, kita juga dituntut profesional dalam mengurusi lembaga, apalagi lembaga dakwah kampus.

Pertanggungjawabannya tidak hanya didunia saja, berupa LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) yang diserahkan ke Rektorat setiap akhir pengurusan, tapi juga  pertanggungjawaban di akhirat, atas amanah yang telah diberikan kepada kita dalam menegakkan Dinullah.

Semua amanah ini membuat kita merasakan hal yang sama, yakni bibir sariawan hehe.

Memang, meskipun kita bisa tahan dengan semua tuntutan lembaga, tapi kita paling tidak tahan kalau punya penyakit sariawan.

Menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan, setiap kali saya tanya ke teman yang aktif organisasi, pasti dia memilki penyatit yang sama dengan saya (sariawan).

Penyakit fenomenal ini, memang suka bikin kejutan, dia sering muncul pada waktu yang tidak tepat.

Pernah suatu ketika, saya meiliki janjian dengan instansi kampus untuk membuat video sambutan. Parahnya,  pas hari H, si Sari-awan ini muncul . Ya sudah, saya akhirnya diwawancarai dalam kondisi mulut pelentat-plentot karena menahan rasa sakit di mulut.

Dari sinilah saya menyadari, kalau seseorang memiliki penyakit sariawan, bisa jadi dia lagi banyak pikiran, dan banyak teman saya yang mengalaminya.

Kegaduah di Group WA

pixabay.com

Bujangan galau ketemu bujangan singel. Udah, jadinya saling curhat deh…

Saya memiliki sebuah gorup WA yang sebenarnya saya malas masuk group itu, namanya saja “Jomlo Sampai Halal”. Pasti isinya orang-orang yang lagi kebelet gituan. Tapi apalah daya, mereka adalah makhluk-makhluk yang butuh pencerahan, jadinya saya tetap bertahan di dalamnya hehe.

Meskipun nama groupnya seperti itu, tapi isinya sangat bermanfaat kok. Kita sering mendapatkan informasi yanb bermanfaat, mulai dari info kampus, info kajian, sampai info lowongan kerja pun ada.

Banyak threat yang aneh-aneh dalam gorup itu. Hingga sebuah curahan hari muncul, “Galau nih, butuh refresing”, kata salah satu anggota group.

Statement itu mendapat banyak tanggapan, ada menanggapi positif, ada juga yang bernada meledek.

mukidi : kayaknya, tetangga sebelah lagi nunggu tuh bro :v

baca quran se maknanya akhi (obat hati) : agus

udin : yuk ke pantai, kayaknya perlu refresing nih 😀

bersambung…

Berdasarkan quick voting, mayoritas penghuni group tertarik untuk pergi ke pantai. Tapi muncul lagi pertanyaan, pantai mana yang mau kita kunjungi ?.

Pantai… pantai… pantai…., (berfikir).

Kalau denger kata pantai, sosok  pertama kali yang muncul dalam benak kita adalah si Abi (nama orang).

Abi adalah juru kunci pantai-pantai eksotis Gunung Kidul yang jarang orang temukan. Akhirnya kita minta pencerahan dari Abi untuk memberikan refrensi pantai yang enak untuk dikunjungi.

Munculah nama Pantai Ngeden sebagai destinasi wisata tujuan kita. Kata Abi, pantai ini tempatnya terpencil, jalannya masih jelek, tapi keindahan yang ditawarkan sebanding dengna perjalanan yang ditempuh.

Sendiko dawuh, kita manut sama juru kucinya.
Kegaduan di group kita tutup dengan menentukan hari dan tanggal keberangkatan.

Persiapan Berangkat

unsplash.com

 

Melalui malam-malam penuh kegalauan, akhirnya tibalah hari yang dinanti-nanti. Malam ahad adalah waktu yang tepat untuk berangkat berlibur ke pantai.

Masjid Kampus menjadi basecamp tempat berkumpul kita, teman-teman dari penjuru mata angin mulai berdatangan dengan segala peralatan yang dibawanya. Ada yang membawa tikar, kompor, air galon dan hal-hal yang  butuhkan selama bermalam di pantai.

Satu orang yang kita tunjuk sebagai ketua rombongan mulai mengabsen anggotanya. Satu persatu ditanya kelengkapan barng bawaannya. ” Ada yang kurang nih”, kata ketua.

Ternyata ada sesuatu yang terlupa oleh kita,  cemilan dan kopi hehe.

Dua barang ini merupakan teman yang asyik untuk menemani ngobrol santai kita di pinggir pantai. Akhirnya kita dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang membeli cemilan, kopi dan sebagian membeli bensin untuk bahan bakar pejalanan.

Setelah semua barang dirasa lengkap, akhirnya kami melakukan perjalanan menju TKP.

Menyusuri Jalan yang Mencekam

unsplash.com

Jarum jam menunjukkan pukul 21.00, semua motor dalam keadaan enggin on, dengan mengucap basmallah, kami mulai memacu kuda besi kita menuju pantai Ngeden.

Perjalanan diprediksi akan berlangsung selama 1,5 jam dengan kondisi jalan lancar. Kecepatan motor kita sepakati tidak lebih dari 60 KM/jam, karena kita berkendara malam hari dan kondisi jalan naik turun yang dikelilingi pohon Jati.

Rute yang kita lalui dari Jogja kota, melewati jalan Imogiri Timur menuju perbatasan Gunung Kidul. Perjalanan melewati jalanan kota terasa santai dan nyaman. Selepas melewati perbatasan, jalanan mulai gelap, tidak ada lampu penerangan jalan di kanan-kiri. Akhirnya kita turunkan kecepatan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ditengah perjalanan, kami menemui banyak jalan tanjakan dan turunan yang cukup tajam. Kala kita tidak hati-hati, motor bisa terpeleset masuk jurang dan nyawa kita bisa melayang.

Pada sebuah tanjakan yang curam, kami bersiap-siap tancap gas supaya bisa melewati tanjakan  dengan mudah. Kami kaget bukan kepala, tiba-tiba di depan, ada truk pengangkut pasir yang mogok.

Dengan sigap, kami pun mengendalikan setir motor dan membelokkannya supaya tidak menabrak truk tersebut. Alhamdulillah, atas pertolongan dari Allah SWT, kita masih diselamatkan dari mara bahaya.

Jalanan menajak dan berkelok sudah kita lalui, akhirnya tinggal jalan setapak  harus kita lewati untuk sampai ke pantai.

Pelan tapi pasti, si kuda besi kami ajak berjuang melewati jalanan berbatu. Kurang lebih 10 menit sudah kami menyusuri jalan setapak ini, sampai-sampai bokong terasa panas.

Akhirnya, gemuruh ombak pantai pun terdengar ditelinga. Kurang beberapa putran roda kami sampai di lokasi. Alhamdulillah, kami sampai di lokasi dengan selamat.

Berkenalan dengan Pantai Ngeden

arumkhasanna.blogspot.co.id

 

Udara pantai selatan yang sayup-sayup seakan memberi salam kedatangan kepada kami. Udara pantai yang segar, membuat hari ini terasa tenang. Tanpa berlama-lama, kami memarkirkan motor di tempat parkir yang terlihat masih sederhana.

Semua orang menucapkan “Alhamdulillah” sebagai bentuk rasa syukura telah dimudahkan oleh Allah untuk mendatangi salah satu pantai yang indah ini.

Tempat ini sangat cocok sekali untuk mentadaburi ayat-ayat kauniah yang ada dimuaka bumi. Jarang sekali orang datang ketempat eksotis untuk tujuan mentadaburi kebesaran Allah. Kebanyakan mereka hanya mengagumi alam yang hijau nan indah ini. Kalau mereka meniatkan untuk mensyukuri nitmat Allah, pastinya liburan merka akan semakin barokah dan mendapatkan pahala disisi Allah SWT.

Alhamdulillah, kita sebagai orang-orang yang sedikit tahu  tentang ilmu ini mengamalkannya supaya perjalanan kita tetap berpahala.

Ternyata, ketika kami sampai di pantai, sudah ada orang yang mendahului kita. Mereka mendirikan tenda di pinggir pantai sambil menyalakan api unggun sambil bercada tawa mengelilingi api itu.

Tapi sayang, sepertinya ada yang kurang pas dengan kegiatan mereka. Terlihat ada beberapa wanita di kerumunan mereka. Ada yang memakan kerudung, ada juga yang tidak. Semoga saya salah dalam menilai mereka, karena bisa jadi mereka satu keluarga yang sedang berlibur untuk menikmati suasana pantai.

Wilayah pantai berpasir sudah dikuasai orang, berarti kami tidak bisa bermalam di sana. Tapi memang, tujuan kita bukan camping di pinggir pantai berpasir, melainkan di bibir pantai berkarang yang paling ujung.

Semua barang kami kumpulkan untuk dibawa ke spot yang kita tuju, disana banyak keindahan yang belum perah saya temui sebelumnya.

Bersambung…. Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT – Part II

Please rate this

Malu, Ditampar oleh Perkataan Anak Kecil 5/5 (1)

Kebo nusu gudel” mungkin ini peribahasa Jawa yang tepat untuk mengawali tulisan saya pada kesempatan kali ini. Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu, kebo yang artinya kerbau, nusu = menyusui,  gudel  sebutan untuk anak kerbau. Jadi “kebo nusu gedel” adalah kerbau yang menyusu kepada anak kerbau.

Maknanya, “orang tua yang belajar kepada anak kecil”.

Yah, saya pernah mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil. Pada saat itu dia seolah menjadi guru bagiku dan ia menasihatikau lewat kata-katanya.

Ceritannya bermula ketika saya lagi asyik mantengin taptop, tiba-tiba ada panggilan misterius masuk di ponsel lenovo miliku.

Panggilan Misterius

soytecno.com

Tilulit…. Tilulit …. Tilulit….,

HP saya berdering, dengan seketika saya menoleh ke hp saya untuk menjawab panggilan yang masuk.

“Kok ndak ada nama kontaknya ya, siapa ini, malam-malam gini telefon ?”, batin saya.

P : Penelfon

S : Saya

——————————-

P : Assalamu’alaykum…

S : Waalaykumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…

P : Goh, pie kabare, apek to?

S : “Weh… siapa ini, kayaknyanya kenal”.  Alhamdulillah baik, dengan siapa ya ?

P : welah… iki aku, Mas Faizin.

S : Woalah, Mas Faizin to, pripon mas ?

Berlanjut…

Mas Faizin adalah musyrif saya ketika nyantri di asrama mahasiswa Seturan. Beliau merupakan sosok musyrif yang lucu dan asyik. Semua orang yang dekat dengan beliau pasti merasa nyaman.

Selepas lulus kuliah (disalah satu perguruan negeri Yogyakarta), beliau tidak lagi menjadi musyrif di asrama mahasiswa. Melainkan pindah menjadi musyrif  SMP IT Salman Al Farisi di Yogyakarta dan menjadi tenaga pengajar di sana.

Tujuan beliau menelfon saya adalah untuk meminta saya menjadi musyrif di agenda Quran Camp yang diadakan pada pada hari juma, sabtu, dan ahad di SMP-nya. Beliau mencari musyrif yang bisa mendampingi peserta Quran Camp. Kriteria musyrif yang  dicari adalah bacaan Al Quran-nya bagus dan memiliki hafalan minimal juz 30.

Karena pada saat itu saya selo, hafalan minimalis, maka saya diminta jadi musyrif di acara Quran Camp tersebut. Percakapan berlanjut pada persiapan acara dan penjelasan singkat tentang acara tersebut.

Hari -1, para musyrif diminta untuk hadir dalam persiapan QC.

Pandangan Pertama

unsplash.com

Hari pertama, kita diminta untuk hadir sebelum peserta sampai di lokasi. Kami memposisikan diri pada garda terdepan untuk menyambut adik-adik peserta dengan ramah, karena kesan pertama akan menentukan kesan-kesan selanjutnya. Kalau kesan pertama terlihat menyenangkan, maka seterusnya juga akan begitu.

Adik-adik peserta mulai berdatangan, satu demi satu peserta menghampiri meja registrasi untuk mengkomfirmasi keikutsertaannya sebagai peserta. Para orang tua pun dengan setia mengantarkan putra-putrinya mengikuti Quran Camp sambil menitipkan putra-putrinya kepada panitia.

“Ustad, tolong titip anak saya ya, tolong dibimbing supaya rajin menghafal Quran”, ucap salah satu ortu peserta.

“Wah, berat nih, ilmu masih cetek dipanggil ustad”, batin saya.

Banyak orang tua yang memitipkan pesan kepada para musyrif pendamping. Ada yang menita supaya anaknya tidak lupa minum obat, ada yang sering lupa naruh kacamata, ada juga yang berpesan kalau anaknya laper tolong dibeliin jajan berapapun yang diminta, nanti tagihannya diserahkan kepada orang tua.

Para orang tua peserta merasa agak cemas, karena anak-anaknya akan berpisah dengan orangtua selama tiga hari dua malam untuk mengikuti Quran Camp. Semua kebutuhan peserta selama tiga hari ditanggung oleh panitia . Musyirf  pendamping bertanggung jawab untuk mendampingi dan memastikan semua kebutuhan peserta terpenuhi.

Opening Ceremony

ytimg.com

Untuk memeriahkan jalanya agenda Quran Camp, dilakukanlah acara pembukaan yang dihadiri oleh seluruh pengurus sekolah dan jajaran yayasan.

Setelah dibuka degan salam dan tilawah Al Quran, tibalah waktunya sambutan oleh tokoh-tokoh yang hadir sebagai bentuk formal dari agenda ini. Sambutan diawali oleh ketua pelaksana, dilanjut kepala sekolah, dan ketua yayasan secara berurutan.

Pembukaan ini juga merupakan momentum penyerahan tanggungjawab, dari orang tua peserta kepada pihak panitia untuk di didik selama tiga hari dua malam.

Opening ceremony berakhir dengan lancar tanpa suatu halangan apapun. Satu persatu orang tua meninggalkan lokasi sambil memberikan ciuman kasih sayang kepda putra-putrinya.

Menentukan Nama Kelompok

pesantrenluluwalmarjan.org

Setiap peserta sudah dikelompokkan oleh panitia berdasarkan jumlah hafalannya. Kebanyakan anak-anak menghafal juz 30,29 dan 28. Tapi ada juga yang menghafal surat Al Baqoroh. Alhamdulilah-nya, saya mendapat kelompok yang menggafal juz 30 sesuai kapasitas saya hehe.

Hal pertama kali yang saya lakukan ketika masuk ruangan peserta adalah beristigfar dan mengelus dada.

“Astagfirullahalazim……”, sambil mengelus dada.

Melihat tingkah laku anak-anak yang sangat aktif ini, membuat saya harus lebih banyak bersabar. Kasur yang sudah ditata rapi untuk istirahat mereka, dipakai mainan, ditumpuk-tumpuk sampai tinggi. Satu-persatu anak lari dan melompat ke atas kasur, tawa ceria anak-anak pun memenuhi ruangan.

Sebagi seorang musyrif pendamping, kita pasti khawatir melihat tingkah laku anak-anak yang seperti itu. Karena selama tiga hari, mereka menjadi tanggungjawab kita. kalau terjadi apa-apa, kita pasti yang pertama dimintai pertanggunhjawaban.

“Assalamu’alaykum adik-adik, gimana kabarnya?”, sapa saya sambil memasang wajah manis.

Merekapun berkumpul menuju saya dan saya kasih tugas menentukan nama untuk kelompok mereka. Bermacam nama muncul dari mulut mereke. Ada yang menyebutkan nama-nama kartun, pahlawan, power ranger, naruto dll.

Akhirnya mereka memutuskan nama “Umar” sebagai nama kelompok mereka. Pemberian nama Umar mereka anggap mewakili karakter mereka yang banyak tinggah dan semangat.

Tugas pertama sudah selesai, maka berlanjut ke acara selanjutnya, yaitu menghafal AL Quran sesuai tujuan awal mereka datang ke acara ini.

Menghafal Al Quran

alquranclasses.com

Ada banyak metode menghafal Al Quran yang bisa digunakan sebagai cara untuk memudahkan menghafal Al Quran. Metode yang menjadi pilihan dalam Quran Camp ini adalah metode Dzikruna.

Terusterang, pada saat itu saya juga baru mengetahui metode ini. Tapi kurang lebih hampir sama dengan metode Tikrar dengan mencoret kolom yang sudah disediakan. Mushaf yang digunakan berukuran besar lebih besar, sebesar kertas A4 dengan setiap ayat yang dipotong satu persatu dan ditulis kurang lebih 15 kali. Di samping kanan-kiri ada kolom untuk menuliskan berapa ayat yang sudah dibaca.

Ternyata tidak cuma saya yang baru pertama kali mengetahui metode Dzikruna, kebanyakan peserta juga senasip dengan saya. Akhirnya saya jelaskan pelan-pelan, bagaimana menggunakan metode ini.

Para peserta ada yang bisa mengikuti, ada juga yang susah sukar mengikuti, karena ia terbiasa menghafal dengan mushaf pada umumnya.

Perlu perjuangan untuk menyesuaikan diri menghafal Al Quran dengan metode yang baru. Akhirnya mushaf Dikruna yang diberikan kepada peserta, digunakan sebagai media baca saja, seperti mereka menggunakan mushaf  30 juz.

Kegiatan mengfal Al Quran dilaksanakan pada waktu ba’da subuh-duhur, ba’da dzuhur, ba’da asar dan ba’sa iya’. Selama kegiatan menghafal berjalan, para musyrif pendaping dan mendengarkan setoran mereka secara  seksama. Banyak hal-hal unik yang kami temui selama mendampingi adik-adik.

Tehnik Menghafal Quran yang Unik

storyofpakistan.com

Sebagai seorang musyrif yang baik, kita dituntut memperhatikan peserta secara detail, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Termasuk memperhatikan perilaku anak-anak selama menghafal Al Quran.

Teman saya , Burhan, bertugas dikelompok sebelah, ia menemukan peserta yang cara menghafalnya bisa dibilang cukup unik. Tehnik ini tidak biasanya dilakukan oleh kebanyakan penghafal Al Quran. Cara ini tidak perlu meluangkan kosentrasi yang tinggi untuk bisa menghafal Al Quran.

Teman saya baru menyadari kenunikan ini setelah menjalankan program menghafal Al Quran beberapa sesi. Dia memperhatikan si Azzam setiap kali setoran hafalan, ia terlihat sangat lancar melantunkan ayat suci Al Quran.

Setelah ditelusuri, si Azzam ini tidak membaca Al Quran seperti teman-teman yang lainnya. Dia hanya memegang mushofnya sambil memejamkan matanya.

Karena si Azzam terlihat memegang mushaf dan mulutnya komat kamit membaca ayat Al Quran. Burhan menganggap Azzam sedang menghafal Al Quran. Tapi semakin diperhatikan si Azzam kok ndak pernah membuka mushafnya.

Setelah ditanya, ternyata Azzam memang tidak membaca mushof Al Quran seperti teman yang lainnya . Ia cuma memunculkan ayat-ayat Al Quran yang ada dalam ingatan bawah sadarnya.

“Masya Allah…, kok bisa ya”, heran saya.

Ternyata, keluarga Azzam memiliki kebiasaan yang unik. Ibuknya selalu mendengarkan ayat-ayat Al Quran menggunakan MP3 kepada anak-anaknya selma tidur. Ba’da subuh, anak-anaknya disuruh setoran surat yang telah diperdengarkan tadi malam.

Hari-hari Penuh Tawa

winningwayz.co.za

Quran Camp berlanjut hari kedua, ba’da subuh kita melanjutkan hafalan dan setoran hafalan. Anak-anak sangat antusia mengikutinya, tapi ada juga yang mengantuk ketika sedang menghafal.

Selepas menghafal, kita bermain bola dilapangan. Semua anak laki-laki turun ke lapangan. Sebenarnya, permainan ini tidak ada dalam agenda, tapi karena ada salah satu anak memainkan bola dilapangan, akhirnya anak-anak yang lainnya ikutan main, termasuk kami para musyrif hehe.

Selepas main bola, kami mandi, dan sarapan pagi. Jam 9.00 semua peserta harus sudah dalam kondisi siap, karena jam 9.00 ada materi dari kak Andi (Children Motifator). 

Dengan gayanya yang lucu, kak Andi membuat anak-anak tertawa. Meskipun penuh canda-tawa, banyak pesan yang disampaikan oleh kak Andi kepada anak-anak, supaya menjadi anak yang sholeh dan mencintai Al Quran.

Selepas kenyang makan siang, dilanjut dengan hiburan dari kak Satria , setorang pesulap muslim. Dalam perfomannya, kak Satria menampilkan sulap tali, roda besi, dan kartu nama yang membuat anak-anak melongo dan tertawa penuh heran.

Dalam keheranannya, kak Satria bertanya kepada adik-adik. “Mau tahu rahasianya?”. Seluruh anak-anak kompak berseru ” Mauuuu !”.

Saat itulah, kak Satria memberikan pesan Tauhid kepada adik-adik. Mereka harus percaya bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya. Hanya Allah SWT dzat yang harus kita imani dan percaya.

Adzan Ashar berkumandang, tandanya waktu hiburan dari kak Seto sudah selesai. Kami pun bergegas mengambil air wudzu dan melaksanakan sholat Ashar berjama’ah.

Keseruan berlanjut setelah sholat Ashar, temen-temen dari Quran Science akan berbagi ilmu tentang roket air. Anak-anak kalau ketemu air jadinya malah basah-basahan main air. Tapi hal itu tidak mengurangi esensi bari belajar science tentang roket air.

Baju basah penuh air, waktunya mandi sore. Kami pun melanjutkan kegiatan sholat magrib, makan malam, sholat isya’ dan menghafal.

Perkataan yang Menampar

pinimg.com

Seperi yang sudah dijadwalkan, selepas sholat Isya’, kami melanjutkan menghafal Al Quran. Satu persatu adik-adik menyetorkan hafalannya sambil sharing-sharing tentang permasalahan yang mereka hadapi dalam menghafal Al Quran.

Sebagian mereka menglami kesulitan ketika menghafal karena ngak ngerti artinya.

Ada satu anak yang saya kira lebih menonjol dari teman-teman satu kelompknya, namanya Rizal. Selama kurang dari dua hari, dia telah menyelesaikan hafalan juz 30. Karena  semua surat pada juz 30 sudah dihafal , ia minta izin kepada saya untuk melanjutkan hafalan juz 5 yang sudah ia hafal sebagian.

Anak ini ternyata sudah hampir setengah dari juz 5 yang ia hafal. Sambil memegang mushafnya, Rizal meminta nasihat kepada saya. “Mas gimana ya caranya biar istiqomah semangat menghafal, mas Teguh sudah hafal berapa Juz ?”, tanya Rizal.

“Plak…”, wajah ini terasa tertampar dengan pertanyaan Rizal. Saya merasa malu sekali dengan dia. Pasalnya saya  sendiri belum hafal juz 5, dia malah sudah hafal setengah.

Akhirnya saya pura-pura ndak mendengar pertanyaan  Rizal, yang kebetulan, pada saat itu saya lagi menyimak setoran temannya. Melihat saya sedang fokus menyiak setoran temannya, Rizal memahami saya dan mengabaikan saya.

“Alhamdulillah…. Aman…”, dalam hati saya.

Ini pelajaran berharga untuk saya, dengan usia yang sudah menginjak kepala dua, baru sedikit hafalan yang saya miliki.

Kami mengakhiri majelis itu dengan salam dan do’a penutup majelis.

Happy Endings

Kelompok Umar

Serangkaian acara sudah dilalui, akhrnya kita sampai lah pada hari terakhir.

Di hari ke-3, kami isi dengan outbound dan pemberian hadiah kepada peserta.

Tidak nampak raut kesediah pada wajah mereka, semua bergembira mengikuti kegiatan outbound.

Selesai outbound, kami menutup cara tersebut dengan pemberian hadiah kepada peserta dan kelompk kami mendapat dorprize karena menjadi kelompok paling rame :-).

Please rate this