Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT

Menjadi mahasiswa yang aktif berorganisasi, menjadikan otak kita bekerja lebih ekstra. Selain dituntut bagus dari secara akademin, kita juga dituntut profesional dalam mengurusi lembaga, apalagi lembaga dakwah kampus.

Pertanggungjawabannya tidak hanya didunia saja, berupa LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) yang diserahkan ke Rektorat setiap akhir pengurusan, tapi juga  pertanggungjawaban di akhirat, atas amanah yang telah diberikan kepada kita dalam menegakkan Dinullah.

Semua amanah ini membuat kita merasakan hal yang sama, yakni bibir sariawan hehe.

Memang, meskipun kita bisa tahan dengan semua tuntutan lembaga, tapi kita paling tidak tahan kalau punya penyakit sariawan.

Menurut survey kecil-kecilan yang saya lakukan, setiap kali saya tanya ke teman yang aktif organisasi, pasti dia memilki penyatit yang sama dengan saya (sariawan).

Penyakit fenomenal ini, memang suka bikin kejutan, dia sering muncul pada waktu yang tidak tepat.

Pernah suatu ketika, saya meiliki janjian dengan instansi kampus untuk membuat video sambutan. Parahnya,  pas hari H, si Sari-awan ini muncul . Ya sudah, saya akhirnya diwawancarai dalam kondisi mulut pelentat-plentot karena menahan rasa sakit di mulut.

Dari sinilah saya menyadari, kalau seseorang memiliki penyakit sariawan, bisa jadi dia lagi banyak pikiran, dan banyak teman saya yang mengalaminya.

Kegaduah di Group WA

pixabay.com

Bujangan galau ketemu bujangan singel. Udah, jadinya saling curhat deh…

Saya memiliki sebuah gorup WA yang sebenarnya saya malas masuk group itu, namanya saja “Jomlo Sampai Halal”. Pasti isinya orang-orang yang lagi kebelet gituan. Tapi apalah daya, mereka adalah makhluk-makhluk yang butuh pencerahan, jadinya saya tetap bertahan di dalamnya hehe.

Meskipun nama groupnya seperti itu, tapi isinya sangat bermanfaat kok. Kita sering mendapatkan informasi yanb bermanfaat, mulai dari info kampus, info kajian, sampai info lowongan kerja pun ada.

Banyak threat yang aneh-aneh dalam gorup itu. Hingga sebuah curahan hari muncul, “Galau nih, butuh refresing”, kata salah satu anggota group.

Baca juga :   Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT - Part II

Statement itu mendapat banyak tanggapan, ada menanggapi positif, ada juga yang bernada meledek.

mukidi : kayaknya, tetangga sebelah lagi nunggu tuh bro :v

baca quran se maknanya akhi (obat hati) : agus

udin : yuk ke pantai, kayaknya perlu refresing nih 😀

bersambung…

Berdasarkan quick voting, mayoritas penghuni group tertarik untuk pergi ke pantai. Tapi muncul lagi pertanyaan, pantai mana yang mau kita kunjungi ?.

Pantai… pantai… pantai…., (berfikir).

Kalau denger kata pantai, sosok  pertama kali yang muncul dalam benak kita adalah si Abi (nama orang).

Abi adalah juru kunci pantai-pantai eksotis Gunung Kidul yang jarang orang temukan. Akhirnya kita minta pencerahan dari Abi untuk memberikan refrensi pantai yang enak untuk dikunjungi.

Munculah nama Pantai Ngeden sebagai destinasi wisata tujuan kita. Kata Abi, pantai ini tempatnya terpencil, jalannya masih jelek, tapi keindahan yang ditawarkan sebanding dengna perjalanan yang ditempuh.

Sendiko dawuh, kita manut sama juru kucinya.
Kegaduan di group kita tutup dengan menentukan hari dan tanggal keberangkatan.

Persiapan Berangkat

unsplash.com

 

Melalui malam-malam penuh kegalauan, akhirnya tibalah hari yang dinanti-nanti. Malam ahad adalah waktu yang tepat untuk berangkat berlibur ke pantai.

Masjid Kampus menjadi basecamp tempat berkumpul kita, teman-teman dari penjuru mata angin mulai berdatangan dengan segala peralatan yang dibawanya. Ada yang membawa tikar, kompor, air galon dan hal-hal yang  butuhkan selama bermalam di pantai.

Satu orang yang kita tunjuk sebagai ketua rombongan mulai mengabsen anggotanya. Satu persatu ditanya kelengkapan barng bawaannya. ” Ada yang kurang nih”, kata ketua.

Ternyata ada sesuatu yang terlupa oleh kita,  cemilan dan kopi hehe.

Dua barang ini merupakan teman yang asyik untuk menemani ngobrol santai kita di pinggir pantai. Akhirnya kita dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang membeli cemilan, kopi dan sebagian membeli bensin untuk bahan bakar pejalanan.

Setelah semua barang dirasa lengkap, akhirnya kami melakukan perjalanan menju TKP.

Baca juga :   Awas Ukhti, Jangan Sampai Hal ini Menodai Cerita Hijrahmu

Menyusuri Jalan yang Mencekam

unsplash.com

Jarum jam menunjukkan pukul 21.00, semua motor dalam keadaan enggin on, dengan mengucap basmallah, kami mulai memacu kuda besi kita menuju pantai Ngeden.

Perjalanan diprediksi akan berlangsung selama 1,5 jam dengan kondisi jalan lancar. Kecepatan motor kita sepakati tidak lebih dari 60 KM/jam, karena kita berkendara malam hari dan kondisi jalan naik turun yang dikelilingi pohon Jati.

Rute yang kita lalui dari Jogja kota, melewati jalan Imogiri Timur menuju perbatasan Gunung Kidul. Perjalanan melewati jalanan kota terasa santai dan nyaman. Selepas melewati perbatasan, jalanan mulai gelap, tidak ada lampu penerangan jalan di kanan-kiri. Akhirnya kita turunkan kecepatan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ditengah perjalanan, kami menemui banyak jalan tanjakan dan turunan yang cukup tajam. Kala kita tidak hati-hati, motor bisa terpeleset masuk jurang dan nyawa kita bisa melayang.

Pada sebuah tanjakan yang curam, kami bersiap-siap tancap gas supaya bisa melewati tanjakan  dengan mudah. Kami kaget bukan kepala, tiba-tiba di depan, ada truk pengangkut pasir yang mogok.

Dengan sigap, kami pun mengendalikan setir motor dan membelokkannya supaya tidak menabrak truk tersebut. Alhamdulillah, atas pertolongan dari Allah SWT, kita masih diselamatkan dari mara bahaya.

Jalanan menajak dan berkelok sudah kita lalui, akhirnya tinggal jalan setapak  harus kita lewati untuk sampai ke pantai.

Pelan tapi pasti, si kuda besi kami ajak berjuang melewati jalanan berbatu. Kurang lebih 10 menit sudah kami menyusuri jalan setapak ini, sampai-sampai bokong terasa panas.

Akhirnya, gemuruh ombak pantai pun terdengar ditelinga. Kurang beberapa putran roda kami sampai di lokasi. Alhamdulillah, kami sampai di lokasi dengan selamat.

Berkenalan dengan Pantai Ngeden

arumkhasanna.blogspot.co.id

 

Udara pantai selatan yang sayup-sayup seakan memberi salam kedatangan kepada kami. Udara pantai yang segar, membuat hari ini terasa tenang. Tanpa berlama-lama, kami memarkirkan motor di tempat parkir yang terlihat masih sederhana.

Baca juga :   Waspadalah! Jangan Sampai Simbol ini Ada di Masjidmu

Semua orang menucapkan “Alhamdulillah” sebagai bentuk rasa syukura telah dimudahkan oleh Allah untuk mendatangi salah satu pantai yang indah ini.

Tempat ini sangat cocok sekali untuk mentadaburi ayat-ayat kauniah yang ada dimuaka bumi. Jarang sekali orang datang ketempat eksotis untuk tujuan mentadaburi kebesaran Allah. Kebanyakan mereka hanya mengagumi alam yang hijau nan indah ini. Kalau mereka meniatkan untuk mensyukuri nitmat Allah, pastinya liburan merka akan semakin barokah dan mendapatkan pahala disisi Allah SWT.

Alhamdulillah, kita sebagai orang-orang yang sedikit tahu  tentang ilmu ini mengamalkannya supaya perjalanan kita tetap berpahala.

Ternyata, ketika kami sampai di pantai, sudah ada orang yang mendahului kita. Mereka mendirikan tenda di pinggir pantai sambil menyalakan api unggun sambil bercada tawa mengelilingi api itu.

Tapi sayang, sepertinya ada yang kurang pas dengan kegiatan mereka. Terlihat ada beberapa wanita di kerumunan mereka. Ada yang memakan kerudung, ada juga yang tidak. Semoga saya salah dalam menilai mereka, karena bisa jadi mereka satu keluarga yang sedang berlibur untuk menikmati suasana pantai.

Wilayah pantai berpasir sudah dikuasai orang, berarti kami tidak bisa bermalam di sana. Tapi memang, tujuan kita bukan camping di pinggir pantai berpasir, melainkan di bibir pantai berkarang yang paling ujung.

Semua barang kami kumpulkan untuk dibawa ke spot yang kita tuju, disana banyak keindahan yang belum perah saya temui sebelumnya.

Bersambung…. Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT – Part II

Leave a Comment