Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan No ratings yet.

Yogyakarta merupakan kota dengan berbagai macam budaya dan wisata alamnya yang menyejukkan. Banyak tempat-tempat eksotik yang bisa menjadi pilihan liburan kita, terutama daerah pantai dengan ombaknya bergemuruh.

Ketika sedang main di pantai selatan, kita dilarang berenang jauh dari pantai. Konon katanya, selain ombak besar yang bisa menyeret kita, ada juga mitos yang mengatakan pantai selatan dihuni oleh sesok mahluk halus yang cantik jelita yang bernama Nyai Roro Kidul.

Mitos ini populer dikalangna masyarakat Jawa dan Bali. Sesosok roh atau dewi legendaris ini dikenal sebagai Ratu Laut Selatan (Samudra Hindia) dan secara umum disamakan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Ada sebuah pantangan yang dipercayao oleh masyarakat Yogyakarta dan para wisatawan yang berkunjung ke pantai selatan, yakni kita dilarang memkai baju hijau ketika berkunjung ke pantai selatan. Konon katanya, barang siapa yang melarang pantangan ini, maka ia akan digulung ke dalam lalut oleh Nyai Roro Kidul.

neomisteri.com

Sampai sekarang, kita tidak tahu apakah mitos ini benar atau salah. Yang pasti, segala mara bahaya itu pasti ada, yang bisa kita kalukan adalah berhati-hati dan minta pertolongan dari yang diatas.

Saya sendiri juga punya pengalaman yang cukup menegangkan dipantai selatan. Sebenarnya cerita ini belum pernah saya ceritakan kepada khalayak umum. Tapi pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan kepada temen-temen supaya temen-temen tahu fakta dibalik pantai selatan yang belum banyak orang tahu. Kejadian itu saya alami ketika saya sedang liburan akhir semester bersama teman-teman.

Liburan Akhir Semester

unsplash.com

Kehidupan kampus yang penuh tekanan merupakan hal wajar bagi seorang mahasisiswa. Berhari-hari tidak tidur untuk mengerjakan laporan, nginep di kos temen untuk mengerjakan projek, ke lembaga pemirintah untuk mencari data. Hal-hal semacam ini sering saya lakukan selama menjadi mahasiswa dalam rangka menyelesaikan tugas dari kampus.

Meskipun kelihatannya menjadi mahasiswa itu santai, masuk kuliah tidak setiap hari, tapi sebenarnya tugas yang diberikan lebih banyak dari kapasitas hari yang ada.

Jadi, bagi kalian yang belum pernah merasakan bangku kuliah, jangan membayangkan bahwa kuliah itu menyenangkan, masuk kuliah jarang, pilih jadwal sesuka kita, bisa pilih hari libur sendiri dan banyak presepsi yang mennganggap jadi mahasiswa itu enak.

Tapi memang, ada beberapa jurusan yang memang cukup santai dalam pembelajarannya.Tapi, kebetulan saya menjadi mahasiswa teknik, jadi saya merasakan pahitnya jadi mahasiswa yang dikejar-kejar laporan dan tugas hehe.

Menjadi mahasiswa teknik memang penuh tekanan, tapi ada enaknya jadi mahasiswa, yakni masa liburan semester yang panjang hehe.

Liburan semester yang paling berkesan bagi saya adalah pada liburan semester 5. Pada saat itu, saya masih nyantri di asrama IC seturan. Pengasuh asrama berencana mengadakan agenda liburan untuk para santri sebelum pada pulang ke rumah masing-masing untuk menghabiskan liburan, supaya ada kenang-kenangan selama nyanti, dibuatlah liburan semester bersama satu asrama.

Kita disuruh mengsongkan segala agenda dihari yang sudah ditentukan. Beberapa teman ada yang meminta izin kepada musyrif (pengsuh asrama) untuk tidak mengikuti agenda liburan itu karena sudah ada agenda dikampus.

“Mas, saya izin tidak ikut liburan bareng karena sudah ada agenda di kampus”, ucap teman saya.

“Tidak ada yang bole izin. Boleh izin cuma dua alasan, mati dan menikah”, seru musyrif saya.

Aturan tadi menjadi harga mati untuk para santri supaya tidak ada yang izin dari agenda liburan bareng.

Akirnya kita me-reschedule agenda kampus yang sudah jauh-jauh hari kita rencanakan. Permintaan maaf kita lontarkan kepada teman-teman kampus karena kita tidak bisa mengikuti agenda kampus yang telah direncanakan.

Tugas-tugas yang Aneh

unsplash.com

Fixed !, semua santri ikut dalam liburan akhir semester. Hambatan sudah dilewati, tugas yang selanjutkan diberikan kepada para santri adalah mempersiapkan peralatan yang akan kita gunakan selama liburan.

Ada banyak peralatan yang ditugaskan kepada kita, yang saya ingat ada sepatu lapangan/sepatu cat, tali pramuka, tongkat pramuka, sliping bag, kompor portable (kelompok),  pisau lapangan, singkong dan masih banyak yang tidak saya ingat.

Saya berfikir yang neko-neko dengan tugas yang diberikan ini.kok tugasnya suruh bawa ginian, liburannya seperti apa ya?”, fikir saya.

Memang kita sebagai santri tidak diberitahu oleh musyrif tentang konsep liburan yang akan kita jalani. Kita hanya diberitahu kalau liburan kita akan berlangsung selama dua hari, jadi kita disuran membawa berbekalan dan peralatan untuk bekal hidup selama dua hari.

Beragam pertanyaan muncul dari teman-teman. Dengan nada bercandanya, teman saya menyindir musyrif yang merahasiakan konsep liburan kita.

“Wah, harus bikin surat wasiat dulu nih sebelum berangkat liburan”, ujar teman saya.

wkwkwkwkwkw….

Sontak, kamipun tertawa terbahak-bahak karena candaanya itu.

Komitmen denan pendiriannya, musyrif kami tidak memberitahukan konsep liburan yang akan kita alami.

Diksempatan lain, kami dikumpulkan untuk TM (Technical Metting) sebelum keberngkatan. Poin penting yang ditekanan dalam TM tersebut adalah kita disuruh menbawa segala perlengkapan yang sudah ditugaskan dan harus sesuai standar. Kalau tidak sesuai standar, maka akan diberi punishment.

Persiapan yang Matang

unsplash.com

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari Sabtu-Ahad adalah hari yang tepat untuk berlibur, apalagi setelah satu semester penuh dikejar-kejar laporan dan tugas yang menumpuk. Belum lagi disempurnakan dengan UAS (Ujian Akhir Semester) yang bikin was-was.

Jadilah liburan ini sebagai pelarian stress satu semester yang sudah meradang.

Sebelum berangkat, kami dikumpulkan terlebih dahulu di depan asrama untuk persiapan. Tugas-tugas yang telah diberikan dichek satu persatu kelengkapanya, jika ada yang tidak lengkap atau ada yang tidak sesuai dengan standar dikasih punishment.

Ternyata benar prediksi saya, banyaknya item yang ditugaskan untuk dibawa membuat kita terlewat beberapa barang. Alhamdulillah-nya, saya membawa semua peralatan yang sudah ditugaskan. Tapi, tanpa disangka-sangkat, sepatu saya kurang standar, jadinya saya dapet punishment juga.

Teman saya ada yang lupa tidak bawa ikat pinggang, dia diberi waktu untuk mencari atau meminjam kepada teman yang memiliki lebih. Setelah bertanya kepada teman-teman asrama, tidak satupun yang memiliki ikat pinggang berlebih. Adapun yang memiliki lebih tapi keadannya sudah memprihatinkan.

Akhirnya, teman saya tadi memutar otak supaya esensi dari ikat pinggang bisa terpenuhi. Dijadikanlah tali rafia menjadi ikat pinggang untuk ikat pinggangnya.

“Kreatif bener,…”, ucap saya sambil geleng-geleng.

Tidak ada kata ampun untuk yang tidak membawa tugas dan tidak sesuai standar.

Seorang instruktur yang bertugas memandu kami selama liburan menghitung dari angka 1 sampai 20 sebagai jumlah push up yang harus kita selesaikan, namanya bapak Herman. Beliau sudah memiliki jam terbang tinggi dalam karirnya sebagai seorang trainer.

Tak sampai hitunggan ke-20, teman-teman pada bergelimpangan karena tidak kuat menahan lemak yang mempel di tubuh bertahun-tahun :-).

Hitunganpun dilanjutkan untuk menyelesaikan punishment yang belum selesai.

Semua perlengkapan sudah komplit, kamipun siap meluncur ke lokasi.

Tapi, sebelum berangkat. Kiata ada upacara pembukaan sebagai kegiatan formal yang diadakan oleh pihak asrama. Upacara berisi kegitan sederhana, yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Ustad pengasuh asrama kami, beliau memberikan tausiah singkat akan pentingnya liburan yang penuh misteri ini hehe.

Tak lupa, beliau juga menyerahkan tanggungjawab atas hidup-mati anak-anak kepada pak Herman sebagai trainer yang akan memandu kita selama berlibur.

Upacara pembukaan ditutup dengan penghormatan dan bembuaran oleh pemimpin upacara.

Selanjutnya, dengna semangat kita mengangkat barang-barang kita kedalam truk sebagai alat transportasi yang akan mengantarkan kita sampai ke lokasi yang kita tuju.

Bersambung, “Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penguhi Pantai Selatatan – Part II

Baca juga:

 

Please rate this

Baca juga :   Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan - Part II

Leave a Comment