Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan – Part II 2.5/5 (2)

Berlibura merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu dikala kita mendapat banyak beban dan tanggung jawab. Banyak tempat yang bisa kita pilih, tapi, yang palingsesuai untuk menenanggkan diri adalah liburan di alam bebas. Seperti yang saya lakukan bersama teman-teman.

Liburan akan semakin seru jika berkunjung ke tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Apalagi liburannya selama dua hari satu malam, rame-rambe bareng teman, pasti akan semakin menantang.

Melanjutkan cerita part 1 kemarin, kami memiliki rasa penasaran yang sama untuk mengikuti liburan yang diadakan oleh pengasuh asrama. Pasalnya bayak persiapan yang harus kita lakukan untuk dapat mengikuti agenda ini. Pastinya agenda ini bukan agenda liburan biasa.

Berangkat Menggunakan Truk

ilustrasi | gkbikrg.wordpress.com

Semua barang yang kita persiapkan sudah kita masukkan ke dalam truk, kami pun ikut masuk ke dalamnya. Suara mesin diesel yang terdengar semakin kencang menandakan truk sudah mulai meluncur menuju ke lokasi liburan kita.

Terlihat pada jam tangan saya, jarum kecil yang sedang menunjuk angka dua, hari terasa begitu terik. Menegadah ke langit terlihat langit biru yang begitu cerah dan awan putih berlalu-lalang seakan melindungi kita dari sengatan matahari. Kondisi yang tepat untuk berlibur.

Selama perjalanan, tidak banyak pemandangan yang bisa kita lihat, karen kita menggunakan truk terbuka. Hanya terlihat langit biru dan dedaunan pohon yang terlintas di atas kepala kita.

Untuk memecahkan kebosanan selama perjalanan, kami menyanyikan nasyit perjuangan untuk membakar semangat kami. Beberapa lagu-lagu nasyid Indonesia yang mereka hafal pun bermunculan, seperti Shoutul Harokah, Izzatul Islam, Ar Rugul Jadid dan beberapa lagu yang saya sendiri tidak hafal. Lantunan lirik lagu nasyid ini begitu sayahdu sakan mewakili jiwa muda  kami yang haus akan perjuangan.

Karena yang hafal lagu nasyid tidak semua, akhirnya yang nyanyi pun capek. Kebanyakan teman-teman cuma dikit-dikit hafalnya, kalau ada yang menyanyi, dikit-dikit kita nyambung. Akhirnya lantunan nasyid kita akhiri.

Cari permainan lain yang bisa menghibur, akhirnya kami pun dapat hiburan lain yang cukup menghibur. Bullying, kalau dalam bahasa Indonesia namanya jadi membuli, merupakan kegitan yang paling ampuh untuk membuat orang ketawa. Tapi kegitan membuli ini hanya bisa dilakukan apabila kita sudah kenal akrab dengan teman kita.

Kalau kami sendiri,  sudah hidup bersama selama hampir satu-setengah tahun, pastinya sudah tahu luar-dalam masing-masing dari kita. Jadi, kegiatan membuli tidak akan membuat orang yang dibuli tersakiti.

Orang yang pertama jadi korban dalam kelompok kita adalah si Anjar. Anjar ini orangnya rada koplak-koplak gimana gitu. Orangnya itu kalau diasrama pasti tidak bisa diam, ngerjain orang adalah kegitan tutinitasnya. Ada temen yang lagi serius dia bercandain, ada yang lagi kena masalah dibercandain, pokoknya tidak ada orang yang pernah lolos dari kejailannya.

Tapi meskipun begitu, ia menjadi orang cukup penting di kampus. Saya juga heran, kenapa orang seperti ini bisa jadi orang penting di kampus hehe.

Kenyang dengan bullying, tanpa sadar kita sudah dekat dengan lokasi. Angin pantai berhembus dari sela-sela tebing terasa sampai kedalam truk kita.

Tak menunggu lama, akhirnya kita sampai di Pantai Krakal sebagai titik start wisata pantai kita. Kami pun segera turun dan menikmati seindahan pantai disenja hari sebelum acara dimulai. Tak lupa kami mengabadikan momen langka ini dengan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan untuk memupuk kembali ukhuwah diantara kita.

blog.reservasi.com

Dari kejauhan, terlihat Pak Herman yang gagah, berjalan menghampiri kita. Beliau terlihat gagah dengan seragam trainer yang ia kenakan dan tubuh kekarnya. Dengan segera kita mempersiapkan diri untuk menerima instruksi selanjutnya dari beliau.

“Siap grak, Lencang depan grak … !”, Pak Herman menyiapkan barisan kita.

Dengan asisten dan para musyrif disamping kanan dan kirinya, beliau mulai menjelaskan konsep yang selama ini dirahasiakan kepada kita. Tak lupa beliau mengingatkan kepada peserta untuk senantiasa meluruskan niat kepada Allah, supaya kegitan yang kita lakukan mendapat pahala di sisi Allah SWT.

Konsep Liburan yang di Luar Nalar

desktopography.net

Melihat wajah bahagia anak-anak yang penuh semangat , beliau tanpa lanjut  menjelaskan konsep liburan yang akan kita jalani.

“Assalamu’alaykum…, masih semangat anak-anak?”, seru Pak Herman.

Diawali dengan menjawab salam dari Pak Herman, kami dengan semangat mengucapkan “masih …!”, dengan nada lantang.

Satu demi satu konsep liburan dijelaskan oleh beliau. Terlihat wajah anak-anak yang sebelumnya bersemangat berubah  merengut seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen sama orang tuannya.

Bagaimana tidak merengut, beliau menjelaskan bahwa kita akan menghabiskan libura selama dua hari ini di sepanjang pantai selatan. Start dari pantai krakal malam hari, dan berakhir di pantai yang masih dirahasiakan.

Di sepanjang malam kita akan menyusui pantai selatan dengan berjalan kaki. Terlihat sekilas dari kejauhan, jalan putih berbatu yang akan menemani perjalanan kita. Kami pun mempersiapkan diri untu menjusuri jalan itu.

Makan Malam Spesial

SeputarJawa.Com

Melakukan perjalanan menggunakan truk terbuka, membuat energi kita terkuras, apalagi selama perjalanan, kita habiskan waktu dengan bernasyid dan membuli orang. Perut terkocak-kocak membuat rasa lapar ini bertambah parah. Tapi karena kita cuma peserta yang takut dengan instruktur, kami pun diam saja dengan rasa lapar ini.

Ahirny Pak Herman memberitahukan kalau kita akan makan sebentar lagi. Kabar ini terdengan begitu menyejukkan ditelinga, seakan nyebur kelaut merasakan kesegaran air laut. Tapi, sebelum makan malam, kita sholat magrib berjama’ah terlebih dahulu, karen waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.

Tanpa pusing-pusing mencari air wudzu, kami pun mengambil air laut untuk membersihkan tuhuh kita dari najis yang dari tadi siang menempel di tubuh kita. Air laut dimalam hari dibarengi angin laut yang langsung menghantam tubuh kita terasa dingin menusuk tulang.

Sholat magrib kami laksanakan di atas pantai dengan memakai sepatu dan beralaskan dedaunan sebagai tempat sujud kami. Saya merasakan betapa nikmatnya sholat di alam bebas bersama teman-teman.

Karena ada uzur, sholat isya’ kita jama’ dengan sholat magrib, supaya tidak mempersulitkan kita dalam beraktifitas. Sholat berjama’ah berakhir dengan salam dari imam dan dilanjutkan dengan dzikir setelah sholat.

Waktunya makan malam tiba, seperti tradisi di pondok, kita makan bersama dalam dalam satu wadah. Tapi kali ini wadahnya agak spesial, kita menggunakan daun pisang sebagai alas makan. Sebelum ada aba-aba dari instruktur, kita tidak boleh sedikitpun makan.

Pak Herman memimpin do’a makan untuk meminta keberkahan dari Allah, setelah itu beliau menginstruksikan kepada peserta kalau makan kali ini haurs selesai dalam waktu 30 detik. Sontak, saya pun kaget, makanan sebanyak ini harus diselesaikan dalam waktu 30 detik?.

Suara peluit dari Pak Herman menandakan detik pertama waktu kita makan. Tanpa bosa-basi, kami langsung menyantap makanan di hadapan kita. Kerikit dan pasir pantai menjadi lauk yang menemani makan malam kita, terasa seperti krupuk yang menggigit lidah.

“Prittt…”, suara peluit dari Pak Herman terdengar kembali, tanda waktu makan sudah selesai.

Tak satupun dari kita yang bisa menyelesaikan malam, semua peserta dihukum berguling dipinggir pantai dengan kepala mendarat terlebih dahulu. Makan malam kami pun berakhir dengan tragis.

Perjalanan Menyusuri Pantai

unsplash.com

Perjalanan baru akan dimulai. Kenyang dengan makan malam yang berkesan, kita memulai perjalanan menyusuri pantai selatan. Diawalai oleh Pak Herman yang memimpin di depan, para peserta mengikuti beliau satu persatu. Di belakang rombongan ada Pak Roy (asisten Pak Herman) untuk memastikan semua peserta tidak ada yang tertinggal.

Batu kapur putih menjadi track perjalanan kita. Tajamnya batu terasa sampai ke telapak kaki. Beruntung teman yang menggunakan sepatu lapangan dengan permukaan sepetu yang lebih tebal, jadi tajamnya bebatuan tidak terasa begitu terasa.

Beberapa menit melewati jalan berbatu, kita mengalami kesulitan berjalan, panjangnya peserta yang berjejer mengakibatkan perjalanan menjadi lama. Akhirnya rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Satu dipandu oleh Pak Herman, yang satunya lagi dipandu oleh Pak Roy.

Saya termasuk dalam rombongan pertam yang dipandu oleh Pak Herman.

Laju rombongan terasa agak lebih cepat setelah dibagi menjadi dua. Kita pun melaju duluan meninggalkan kelompok dua beberapa meter untuk menjaga traffick perjalanan supaya lancar.

Dengan penerangan dari senter, terlihat dari kejauhan ada semacam semak belukar dari rumput Gajah yang menghadang perjalanan kita. Saya fikir mustahil bisa melewati semak-semak ini, pasalnya tidak terlihat jalan yang layak bagi pejalan kaki.

Dipandu oleh Pak Herman, kita memberanikan diri melewati rimbunnya semak belukar itu. Diringi rasa takut dan khawatir saya melanjutkan perjalanan di belakang Pak Herman. Rasa takut ini bukan karena takut ketemu hantu atau Nyai Roro Kidul, tapi karena takut terjatuh ke jurang dan digigit ular. Soalnya, gemuruh ombah terdengar jelas di kanan dan kiri jalan.

Berbagai pantai sudah kita lalui, start dari pantai Krakal, pantai Sarang Gunungkidul, pantai Ngrumput, dan pantai Drini. Di pantai Drini, kita merebahkan tubuh sejenak untuk mendinginkan panas tubuh karena semalaman menyurusi pantai. Meskipun diterpa angin pantai yang kencang, tak membuat tubuh ini merasa kedinginan. Terlihat di jam tangan saya menunjukkan waktu pukul 1.00 WIB dini hari.

Rasa lelah pun terobati, kita melanjutkan perjalanan ke pantai sebelahnya, yaitu pantai Watu Kodok. Disana kita mendirikan tenda sekadarnya dan beristirahat sampai waktu subuh.

matajatim.com

Kreatifitas panitia dalam membangunkan peserta perlu diacungi jempol. Dalam kondisi badan capek, kami dibangunkan dengan menggunakan petasan kembang api. “Dar…Dor…..”, terdengar suara letusan yang memekikkan telinga, membuat kita panik sehingga rasa malas untuk bangun pun hilang. Kami bangun dan melakukan sholat subuh berjama’ah.

Perut terasa lapar, Pak Herman memberikan tantangan kepada peserta untuk mencari segala hewan laut yang bisa dimakan. Tak mememiliki keahlian menangkap hewan laut, saya menemukan hewan yang namanya bulu babi. Meskipun namanya bulu babi, tapi hewan ini tidak se-haram kedengarannya. Hewan ini dinamakan bulu babi karena bentukknya yang banyak durinya sehingga menyerupai babi hutan. Tapi pada dasarnya hewan ini seperti kerang laut yang halal untuk dimakan.

lahaduta.wordpress.com

Nyam…nyam….,, kami meinkmati sea food di pinggir pantai, para penghuni pantai selatan pun lalu lalang untuk beraktifitas, yaitu para nelayan yang sedang mengkap ikan hehe.

Karena kegitan kami memakai jalanan mereka, kami sebagai pendatang memberi salam  sebagai rasa hormat kepada kepada mereka.

Perjalanan susur pantai selatan kami lanjutkan dengan melewati  pantai Sangen, pantai Sepanjang dan pantai Kukup. Perjalanan hari ini sedikit berbeda dengan malam hari, karen kita bisa menikmati keindahan pantai ciptaan Allah SWT.

Perjalanan kami berakhir di pantai Baron. Tak melewatkan kesempatan langka, kami mencicipi  makanan di pantai baron yang terkenal dengan sea food-nya. Happy ending, perjalanan yang penuh keseruan terlah berakhir, tak lupa kami foto bersama untuk mengabadikan moment langka ini.

Demikian ceraita saya, banyak keseruan yang saya dapatkan dari penjelajahan ini. Temen-temen pasti punya cerita yang lebih seru dari saya, jangan lupa share dan komen di kolom di bawah ini :-).

Please rate this

Baca juga :   Menikmati Kecantikan Ciptaan Allah SWT

Leave a Comment