Malu, Ditampar oleh Perkataan Anak Kecil

Kebo nusu gudel” mungkin ini peribahasa Jawa yang tepat untuk mengawali tulisan saya pada kesempatan kali ini. Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu, kebo yang artinya kerbau, nusu = menyusui,  gudel  sebutan untuk anak kerbau. Jadi “kebo nusu gedel” adalah kerbau yang menyusu kepada anak kerbau.

Maknanya, “orang tua yang belajar kepada anak kecil”.

Yah, saya pernah mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil. Pada saat itu dia seolah menjadi guru bagiku dan ia menasihatikau lewat kata-katanya.

Ceritannya bermula ketika saya lagi asyik mantengin taptop, tiba-tiba ada panggilan misterius masuk di ponsel lenovo miliku.

Panggilan Misterius

soytecno.com

Tilulit…. Tilulit …. Tilulit….,

HP saya berdering, dengan seketika saya menoleh ke hp saya untuk menjawab panggilan yang masuk.

“Kok ndak ada nama kontaknya ya, siapa ini, malam-malam gini telefon ?”, batin saya.

P : Penelfon

S : Saya

——————————-

P : Assalamu’alaykum…

S : Waalaykumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…

P : Goh, pie kabare, apek to?

S : “Weh… siapa ini, kayaknyanya kenal”.  Alhamdulillah baik, dengan siapa ya ?

P : welah… iki aku, Mas Faizin.

S : Woalah, Mas Faizin to, pripon mas ?

Berlanjut…

Mas Faizin adalah musyrif saya ketika nyantri di asrama mahasiswa Seturan. Beliau merupakan sosok musyrif yang lucu dan asyik. Semua orang yang dekat dengan beliau pasti merasa nyaman.

Selepas lulus kuliah (disalah satu perguruan negeri Yogyakarta), beliau tidak lagi menjadi musyrif di asrama mahasiswa. Melainkan pindah menjadi musyrif  SMP IT Salman Al Farisi di Yogyakarta dan menjadi tenaga pengajar di sana.

Tujuan beliau menelfon saya adalah untuk meminta saya menjadi musyrif di agenda Quran Camp yang diadakan pada pada hari juma, sabtu, dan ahad di SMP-nya. Beliau mencari musyrif yang bisa mendampingi peserta Quran Camp. Kriteria musyrif yang  dicari adalah bacaan Al Quran-nya bagus dan memiliki hafalan minimal juz 30.

Karena pada saat itu saya selo, hafalan minimalis, maka saya diminta jadi musyrif di acara Quran Camp tersebut. Percakapan berlanjut pada persiapan acara dan penjelasan singkat tentang acara tersebut.

Hari -1, para musyrif diminta untuk hadir dalam persiapan QC.

Pandangan Pertama

unsplash.com

Hari pertama, kita diminta untuk hadir sebelum peserta sampai di lokasi. Kami memposisikan diri pada garda terdepan untuk menyambut adik-adik peserta dengan ramah, karena kesan pertama akan menentukan kesan-kesan selanjutnya. Kalau kesan pertama terlihat menyenangkan, maka seterusnya juga akan begitu.

Adik-adik peserta mulai berdatangan, satu demi satu peserta menghampiri meja registrasi untuk mengkomfirmasi keikutsertaannya sebagai peserta. Para orang tua pun dengan setia mengantarkan putra-putrinya mengikuti Quran Camp sambil menitipkan putra-putrinya kepada panitia.

“Ustad, tolong titip anak saya ya, tolong dibimbing supaya rajin menghafal Quran”, ucap salah satu ortu peserta.

“Wah, berat nih, ilmu masih cetek dipanggil ustad”, batin saya.

Banyak orang tua yang memitipkan pesan kepada para musyrif pendamping. Ada yang menita supaya anaknya tidak lupa minum obat, ada yang sering lupa naruh kacamata, ada juga yang berpesan kalau anaknya laper tolong dibeliin jajan berapapun yang diminta, nanti tagihannya diserahkan kepada orang tua.

Baca juga :   Awas Ukhti, Jangan Sampai Hal ini Menodai Cerita Hijrahmu

Para orang tua peserta merasa agak cemas, karena anak-anaknya akan berpisah dengan orangtua selama tiga hari dua malam untuk mengikuti Quran Camp. Semua kebutuhan peserta selama tiga hari ditanggung oleh panitia . Musyirf  pendamping bertanggung jawab untuk mendampingi dan memastikan semua kebutuhan peserta terpenuhi.

Opening Ceremony

ytimg.com

Untuk memeriahkan jalanya agenda Quran Camp, dilakukanlah acara pembukaan yang dihadiri oleh seluruh pengurus sekolah dan jajaran yayasan.

Setelah dibuka degan salam dan tilawah Al Quran, tibalah waktunya sambutan oleh tokoh-tokoh yang hadir sebagai bentuk formal dari agenda ini. Sambutan diawali oleh ketua pelaksana, dilanjut kepala sekolah, dan ketua yayasan secara berurutan.

Pembukaan ini juga merupakan momentum penyerahan tanggungjawab, dari orang tua peserta kepada pihak panitia untuk di didik selama tiga hari dua malam.

Opening ceremony berakhir dengan lancar tanpa suatu halangan apapun. Satu persatu orang tua meninggalkan lokasi sambil memberikan ciuman kasih sayang kepda putra-putrinya.

Menentukan Nama Kelompok

pesantrenluluwalmarjan.org

Setiap peserta sudah dikelompokkan oleh panitia berdasarkan jumlah hafalannya. Kebanyakan anak-anak menghafal juz 30,29 dan 28. Tapi ada juga yang menghafal surat Al Baqoroh. Alhamdulilah-nya, saya mendapat kelompok yang menggafal juz 30 sesuai kapasitas saya hehe.

Hal pertama kali yang saya lakukan ketika masuk ruangan peserta adalah beristigfar dan mengelus dada.

“Astagfirullahalazim……”, sambil mengelus dada.

Melihat tingkah laku anak-anak yang sangat aktif ini, membuat saya harus lebih banyak bersabar. Kasur yang sudah ditata rapi untuk istirahat mereka, dipakai mainan, ditumpuk-tumpuk sampai tinggi. Satu-persatu anak lari dan melompat ke atas kasur, tawa ceria anak-anak pun memenuhi ruangan.

Sebagi seorang musyrif pendamping, kita pasti khawatir melihat tingkah laku anak-anak yang seperti itu. Karena selama tiga hari, mereka menjadi tanggungjawab kita. kalau terjadi apa-apa, kita pasti yang pertama dimintai pertanggunhjawaban.

“Assalamu’alaykum adik-adik, gimana kabarnya?”, sapa saya sambil memasang wajah manis.

Merekapun berkumpul menuju saya dan saya kasih tugas menentukan nama untuk kelompok mereka. Bermacam nama muncul dari mulut mereke. Ada yang menyebutkan nama-nama kartun, pahlawan, power ranger, naruto dll.

Akhirnya mereka memutuskan nama “Umar” sebagai nama kelompok mereka. Pemberian nama Umar mereka anggap mewakili karakter mereka yang banyak tinggah dan semangat.

Tugas pertama sudah selesai, maka berlanjut ke acara selanjutnya, yaitu menghafal AL Quran sesuai tujuan awal mereka datang ke acara ini.

Menghafal Al Quran

alquranclasses.com

Ada banyak metode menghafal Al Quran yang bisa digunakan sebagai cara untuk memudahkan menghafal Al Quran. Metode yang menjadi pilihan dalam Quran Camp ini adalah metode Dzikruna.

Terusterang, pada saat itu saya juga baru mengetahui metode ini. Tapi kurang lebih hampir sama dengan metode Tikrar dengan mencoret kolom yang sudah disediakan. Mushaf yang digunakan berukuran besar lebih besar, sebesar kertas A4 dengan setiap ayat yang dipotong satu persatu dan ditulis kurang lebih 15 kali. Di samping kanan-kiri ada kolom untuk menuliskan berapa ayat yang sudah dibaca.

Baca juga :   Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan - Part II

Ternyata tidak cuma saya yang baru pertama kali mengetahui metode Dzikruna, kebanyakan peserta juga senasip dengan saya. Akhirnya saya jelaskan pelan-pelan, bagaimana menggunakan metode ini.

Para peserta ada yang bisa mengikuti, ada juga yang susah sukar mengikuti, karena ia terbiasa menghafal dengan mushaf pada umumnya.

Perlu perjuangan untuk menyesuaikan diri menghafal Al Quran dengan metode yang baru. Akhirnya mushaf Dikruna yang diberikan kepada peserta, digunakan sebagai media baca saja, seperti mereka menggunakan mushaf  30 juz.

Kegiatan mengfal Al Quran dilaksanakan pada waktu ba’da subuh-duhur, ba’da dzuhur, ba’da asar dan ba’sa iya’. Selama kegiatan menghafal berjalan, para musyrif pendaping dan mendengarkan setoran mereka secara  seksama. Banyak hal-hal unik yang kami temui selama mendampingi adik-adik.

Tehnik Menghafal Quran yang Unik

storyofpakistan.com

Sebagai seorang musyrif yang baik, kita dituntut memperhatikan peserta secara detail, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Termasuk memperhatikan perilaku anak-anak selama menghafal Al Quran.

Teman saya , Burhan, bertugas dikelompok sebelah, ia menemukan peserta yang cara menghafalnya bisa dibilang cukup unik. Tehnik ini tidak biasanya dilakukan oleh kebanyakan penghafal Al Quran. Cara ini tidak perlu meluangkan kosentrasi yang tinggi untuk bisa menghafal Al Quran.

Teman saya baru menyadari kenunikan ini setelah menjalankan program menghafal Al Quran beberapa sesi. Dia memperhatikan si Azzam setiap kali setoran hafalan, ia terlihat sangat lancar melantunkan ayat suci Al Quran.

Setelah ditelusuri, si Azzam ini tidak membaca Al Quran seperti teman-teman yang lainnya. Dia hanya memegang mushofnya sambil memejamkan matanya.

Karena si Azzam terlihat memegang mushaf dan mulutnya komat kamit membaca ayat Al Quran. Burhan menganggap Azzam sedang menghafal Al Quran. Tapi semakin diperhatikan si Azzam kok ndak pernah membuka mushafnya.

Setelah ditanya, ternyata Azzam memang tidak membaca mushof Al Quran seperti teman yang lainnya . Ia cuma memunculkan ayat-ayat Al Quran yang ada dalam ingatan bawah sadarnya.

“Masya Allah…, kok bisa ya”, heran saya.

Ternyata, keluarga Azzam memiliki kebiasaan yang unik. Ibuknya selalu mendengarkan ayat-ayat Al Quran menggunakan MP3 kepada anak-anaknya selma tidur. Ba’da subuh, anak-anaknya disuruh setoran surat yang telah diperdengarkan tadi malam.

Hari-hari Penuh Tawa

winningwayz.co.za

Quran Camp berlanjut hari kedua, ba’da subuh kita melanjutkan hafalan dan setoran hafalan. Anak-anak sangat antusia mengikutinya, tapi ada juga yang mengantuk ketika sedang menghafal.

Selepas menghafal, kita bermain bola dilapangan. Semua anak laki-laki turun ke lapangan. Sebenarnya, permainan ini tidak ada dalam agenda, tapi karena ada salah satu anak memainkan bola dilapangan, akhirnya anak-anak yang lainnya ikutan main, termasuk kami para musyrif hehe.

Selepas main bola, kami mandi, dan sarapan pagi. Jam 9.00 semua peserta harus sudah dalam kondisi siap, karena jam 9.00 ada materi dari kak Andi (Children Motifator). 

Dengan gayanya yang lucu, kak Andi membuat anak-anak tertawa. Meskipun penuh canda-tawa, banyak pesan yang disampaikan oleh kak Andi kepada anak-anak, supaya menjadi anak yang sholeh dan mencintai Al Quran.

Baca juga :   Melewati Batas Normal, Menyusuri Jalanan Penghuni Pantai Selatatan

Selepas kenyang makan siang, dilanjut dengan hiburan dari kak Satria , setorang pesulap muslim. Dalam perfomannya, kak Satria menampilkan sulap tali, roda besi, dan kartu nama yang membuat anak-anak melongo dan tertawa penuh heran.

Dalam keheranannya, kak Satria bertanya kepada adik-adik. “Mau tahu rahasianya?”. Seluruh anak-anak kompak berseru ” Mauuuu !”.

Saat itulah, kak Satria memberikan pesan Tauhid kepada adik-adik. Mereka harus percaya bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya. Hanya Allah SWT dzat yang harus kita imani dan percaya.

Adzan Ashar berkumandang, tandanya waktu hiburan dari kak Seto sudah selesai. Kami pun bergegas mengambil air wudzu dan melaksanakan sholat Ashar berjama’ah.

Keseruan berlanjut setelah sholat Ashar, temen-temen dari Quran Science akan berbagi ilmu tentang roket air. Anak-anak kalau ketemu air jadinya malah basah-basahan main air. Tapi hal itu tidak mengurangi esensi bari belajar science tentang roket air.

Baju basah penuh air, waktunya mandi sore. Kami pun melanjutkan kegiatan sholat magrib, makan malam, sholat isya’ dan menghafal.

Perkataan yang Menampar

pinimg.com

Seperi yang sudah dijadwalkan, selepas sholat Isya’, kami melanjutkan menghafal Al Quran. Satu persatu adik-adik menyetorkan hafalannya sambil sharing-sharing tentang permasalahan yang mereka hadapi dalam menghafal Al Quran.

Sebagian mereka menglami kesulitan ketika menghafal karena ngak ngerti artinya.

Ada satu anak yang saya kira lebih menonjol dari teman-teman satu kelompknya, namanya Rizal. Selama kurang dari dua hari, dia telah menyelesaikan hafalan juz 30. Karena  semua surat pada juz 30 sudah dihafal , ia minta izin kepada saya untuk melanjutkan hafalan juz 5 yang sudah ia hafal sebagian.

Anak ini ternyata sudah hampir setengah dari juz 5 yang ia hafal. Sambil memegang mushafnya, Rizal meminta nasihat kepada saya. “Mas gimana ya caranya biar istiqomah semangat menghafal, mas Teguh sudah hafal berapa Juz ?”, tanya Rizal.

“Plak…”, wajah ini terasa tertampar dengan pertanyaan Rizal. Saya merasa malu sekali dengan dia. Pasalnya saya  sendiri belum hafal juz 5, dia malah sudah hafal setengah.

Akhirnya saya pura-pura ndak mendengar pertanyaan  Rizal, yang kebetulan, pada saat itu saya lagi menyimak setoran temannya. Melihat saya sedang fokus menyiak setoran temannya, Rizal memahami saya dan mengabaikan saya.

“Alhamdulillah…. Aman…”, dalam hati saya.

Ini pelajaran berharga untuk saya, dengan usia yang sudah menginjak kepala dua, baru sedikit hafalan yang saya miliki.

Kami mengakhiri majelis itu dengan salam dan do’a penutup majelis.

Happy Endings

Kelompok Umar

Serangkaian acara sudah dilalui, akhrnya kita sampai lah pada hari terakhir.

Di hari ke-3, kami isi dengan outbound dan pemberian hadiah kepada peserta.

Tidak nampak raut kesediah pada wajah mereka, semua bergembira mengikuti kegiatan outbound.

Selesai outbound, kami menutup cara tersebut dengan pemberian hadiah kepada peserta dan kelompk kami mendapat dorprize karena menjadi kelompok paling rame :-).

Leave a Comment